TUHAN TIDAK MENJANJIKAN HIDUP TANPA BENCANA: Ziarah Kasih Mgr. Yohanes Hans Monteiro di Huntara Konga

Berita, Majalah, News246 Dilihat

KONGA, – “Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa bencana. Bencana adalah peristiwa natural, tetapi Tuhan menjanjikan satu hal yang pasti: Kehadiran-Nya yang tak berkesudahan di tengah badai tersebut.” Kalimat ini bergema di bawah atap Gereja Stasi Mater Dolorosa Konga, Minggu (15/2/2026), menjadi oase bagi ratusan penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Gereja Stasi Mater Dolorosa Konga, Tempat Berlangsungnya Perayaan Ekaristi pada Kunjungan Pastoral Perdana Mgr. Yohanes Hans Monteiro di Hutara (15/02/2026)

Hanya berselang empat hari setelah tahbisan episkopalnya menjadi gembala utama di Keuskupan Larantuka pada 11 Februari lalu, Mgr. Yohanes Hans Monteiro memilih “medan luka” sebagai tujuan kunjungan pastoral perdana beliau. Kunjungan ini bukan sekadar protokoler gerejawi, melainkan simbol kehadiran Gereja yang berjalan bersama umat yang menderita.

​Rombongan Bapa Uskup tiba di Desa Konga, Kecamatan Titehena, didampingi oleh jajaran kuria Keuskupan Larantuka antara lain, Vikjen RD. Adeodatus Hendrikus Leni, Ekonom RD. Wilhelmus Ola Lanan, serta Ketua PSE RD. Fransiskus W. Hurint. Turut hadir dalam sinergi kemanusiaan ini, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen dan Wakil Bupati Ignasius Boli Uran.

Kunjungan Pastoral Perdana Mgr. Yohanes Hans Monteiro di Hutara – Desa Konga (15/02/2026)

Suasana haru menyelimuti perayaan Ekaristi hari Minggu tersebut. Di hadapan wajah-wajah yang tampak lelah namun tetap tegar, Mgr. Hans dalam homilinya menegaskan bahwa identitas sebagai “Anak Allah” tidak akan pernah terkikis oleh abu vulkanik maupun status pengungsian.

​”Hari ini kita berkumpul sebagai umat yang terluka. Erupsi bukan hanya bencana alam, melainkan peristiwa yang menggugah rasa kemanusiaan kita,” ujar Mgr. Hans dengan nada rendah namun mantap. Beliau menekankan bahwa meski rumah-rumah hancur, martabat kemanusiaan tidak boleh ikut runtuh. “Buktinya, hari ini kita masih berdiri di sini, beribadat dan memuji Tuhan. Kehilangan rumah tidak menghapus harga diri kita di mata Allah.”

​Dalam perenungan yang mendalam atas Injil yang dibacakan pada hari Minggu ini, Mgr. Hans membawa pesan teologis yang sangat kontekstual. Beliau mengingatkan bahwa Yesus tidak menghapus hukum yang sudah ada, tetapi Ia datang untuk menyembuhkan mereka yang terluka, dan memulihkan relasi yang retak, termasuk yang diakibatkan oleh bencana. Tekanan ekonomi, trauma psikologis, dan kelelahan fisik seringkali memicu konflik antar sesama penyintas.

​”Iman bukan sekadar doa yang panjang di bibir,” tegas Mgr. Hans. “Iman yang hidup adalah ketika kita saling menguatkan, saling mengampuni, dan tetap jujur dalam keterbatasan. Yesus menawarkan iman yang tidak membiarkan luka menghilangkan sisi kemanusiaan kita.”

Kunjungan Pastoral Perdana Mgr. Yohanes Hans Monteiro di Hutara – Desa Konga (15/02/2026)

Pernyataan paling menyentuh muncul saat beliau merefleksikan keberadaan Tuhan di tenda-tenda pengungsian. Menurut Mgr. Hans, Salib Kristus tidak hanya berdiri megah di atas altar yang dihias bunga, tetapi Salib itu nyata ada di hunian sementara (Huntara), tercermin pada wajah ayah yang kelelahan dan ibu yang letih menata hidup di tengah ketidakpastian.

​Lebih dari sekadar pemulihan infrastruktur, Mgr. Hans memandang masa sulit ini sebagai rahim kelahiran bagi umat yang baru. Beliau mengajak para penyintas untuk tidak hanya fokus pada pembangunan rumah fisik yang baru, tetapi juga menjadi “Manusia Baru”.

​”Dari hunian sementara ini, Tuhan sedang membentuk kita. Manusia baru dalam kasih, manusia baru dalam iman, dan manusia baru dalam pengharapan. Kita berdoa tidak hanya dengan Maria Mater Dolorosa yang berduka, tetapi juga bersama Maria Halleluiya yang merayakan kemenangan atas maut,” tambahnya.

​Setelah perayaan Ekaristi, Mgr. Hans menyerahkan bantuan secara simbolis melalui komisi PSE Keuskupan untuk meringankan beban para penyintas. Agenda dilanjutkan dengan acara tatap muka yang akrab, di mana Bapa Uskup mendengarkan langsung keluh kesah umat di barak-barak pengungsian.

​Kunjungan perdana ini menjadi sinyal kuat arah penggembalaan Mgr. Hans Monteiro: sebuah kepemimpinan yang rendah hati, hadir di garis depan kemanusiaan, dan meyakini bahwa di setiap reruntuhan bencana, selalu ada benih kebangkitan yang sedang disemai oleh tangan Tuhan. (@sly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *