SYUKUR DI KAMPUNG BERBATU LEWOMUDA: Persatuan Fondasi Utama Hidup Menggereja

LEWOMUDA – Stasi Kristus Raja Lewomuda pada Selasa, 17 Februari 2026, mencatat lembaran sejarah baru yang penuh keharuan sekaligus sukacita rohani bagi umat Keuskupan Larantuka khususnya umat Paroki Lewokluok Bama. Kampung kecil yang secara geografis didominasi oleh hamparan tanah berbatu ini mendadak bertransformasi menjadi pusat spiritual yang memancarkan cahaya iman. Di tanah kelahirannya sendiri, Mgr. Fransiskus Kopong Kung merayakan Ekaristi Syukur Purna Bakti sebagai Uskup Larantuka. Momentum ini bukan sekadar seremoni perpisahan jabatan, melainkan sebuah penegasan kembali akan dedikasi seorang gembala yang kembali ke akar rumput untuk menyatakan syukur atas segala penyertaan Tuhan selama masa penggembalaannya yang panjang.

Perayaan Syukur Purna Bakti Mgr. Fransiskus Kopong Kung dari Tugas Kegembalaan Sebagai Uskup Larantuka (Lewomuda, 17 Februari 2026)

Stasi Lewomuda yang merupakan bagian dari Paroki Maria Diangkat ke Surga Lewokluok Bama adalah potret nyata dari komunitas iman yang militan dan tangguh. Meskipun secara administratif hanya terdiri dari enam Komunitas Basis Gerejani dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, yakni 87 Kepala Keluarga atau sekitar 373 jiwa, antusiasme yang terpancar dari setiap wajah umat yang hadir membuktikan sebuah kebenaran teologis yang fundamental. Kebesaran Gereja sesungguhnya tidak pernah ditentukan oleh statistik angka atau kemegahan bangunan fisik, melainkan oleh kedalaman persatuan dan kemurnian hati para anggotanya dalam menghidupi Injil di tengah keterbatasan alam.

Dalam khotbahnya yang sarat makna, Mgr. Fransiskus menekankan pentingnya persatuan sebagai fondasi utama hidup menggereja. Beliau secara cerdas menghubungkan estafet kepemimpinan ini dengan moto uskup baru yang juga menitikberatkan pada aspek persatuan. Persatuan ini bukanlah sekadar konsep organisasi, melainkan doa yang dipanjatkan Yesus sendiri agar dunia percaya melalui kesaksian hidup para murid-Nya. Mgr. Fransiskus dengan suara yang teduh namun berwibawa mengingatkan bahwa tantangan terbesar Gereja di era modern adalah kesenjangan antara perkataan dan perbuatan. Beliau menegaskan bahwa Gereja seringkali terjebak dalam retorika yang indah, namun kehilangan daya pikat karena kesaksian hidup yang lemah. Teladan Yesus yang tidak hanya bicara namun bertindak nyata harus menjadi kompas bagi setiap umat kristiani.

Perayaan Syukur Purna Bakti Mgr. Fransiskus Kopong Kung dari Tugas Kegembalaan Sebagai Uskup Larantuka (Lewomuda, 17 Februari 2026)

Lebih lanjut, Mgr. Fransiskus membedah tiga dimensi persatuan yang harus dihidupi secara konkret oleh umat Keuskupan Larantuka. Dimensi pertama adalah persatuan dengan Allah Tritunggal sebagai sumber kekuatan spiritual yang utama. Tanpa relasi yang intim dengan Sang Pemilik dan Sang Sumber, segala aktivitas pelayanan akan menjadi hampa. Dimensi kedua adalah persatuan dengan sesama yang diwujudkan melalui penguatan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai unit terkecil namun paling vital dalam struktur Gereja. Di sinilah iman diuji dan dipupuk dalam keseharian. Dimensi ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah persatuan dengan alam semesta. Sebagai putra daerah yang akrab dengan karakteristik alam di wilayah Gereja lokal Keuskupan Larantuka, beliau mengingatkan bahwa bencana alam bukanlah cobaan yang menjatuhkan dan melemahkan manusia, melainkan teguran halus agar manusia senantiasa menjaga harmoni dengan alam lingkungan ciptaan Tuhan.

Perayaan Syukur Purna Bakti Mgr. Fransiskus Kopong Kung dari Tugas Kegembalaan Sebagai Uskup Larantuka (Lewomuda, 17 Februari 2026)

Mengutip peringatan keras dari Kitab Suci, Mgr. Fransiskus mengajak umat untuk waspada terhadap ragi kaum Farisi dan Herodes yang dalam konteks kekinian menjelma sebagai virus kemunafikan, iri hati, cemburu, dan kesombongan rohani. Beliau mengibaratkan ragi tersebut sebagai perusak adonan persatuan yang menghancurkan komunitas dari dalam. Kesombongan yang membuat orang merasa diri hebat, seringkali menjadi batu penghalang bagi rahmat keselamatan Allah. Persatuan yang sejati dan menyelamatkan hanya dapat bertumbuh subur di atas tanah kerendahan hati yang tulus.

Ada getaran emosional yang terasa kuat saat Mgr. Fransiskus berbicara tentang identitasnya sebagai putra asli Lewomuda. Beliau mengakui bahwa karakter keras dan tangguh dari kampung yang berbatu ini telah membentuk ketahanan mental dan spiritualnya selama memimpin keuskupan. Namun, beliau memberikan pesan yang sangat mendalam agar sifat batu tersebut tidak disalahgunakan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Beliau mengajak umat untuk menyingkirkan batu-batu penghalang dalam relasi antar sesama dan mendorong Paroki Lewokluok Bama untuk menjadi paroki percontohan dalam hal kesatuan hati.

Perayaan Syukur Purna Bakti Mgr. Fransiskus Kopong Kung dari Tugas Kegembalaan Sebagai Uskup Larantuka (Lewomuda, 17 Februari 2026)

Dalam pandangannya tentang tata kelola kehidupan bersama, Mgr. Fransiskus juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari umat, gembala, pemangku adat, hingga pemerintah, untuk berjalan beriringan tanpa adanya ego sektoral. Sinergi antara iman, budaya, dan struktur sosial adalah kunci bagi kesejahteraan bersama. Menutup masa baktinya dengan sikap seorang hamba, beliau kembali menggemakan motto pengabdiannya yang terinspirasi dari Bunda Maria, yakni penyerahan diri total kepada kehendak Tuhan. Ekaristi syukur ini diakhiri dengan suasana kekeluargaan yang kental dalam ramah tamah sederhana, mencerminkan semangat persaudaraan yang selama ini beliau perjuangkan. Lewomuda hari ini tidak hanya merayakan kepulangan seorang putra daerah, tetapi merayakan nilai-nilai abadi tentang kasih yang nyata dalam tindakan. (@sly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *