SATU DALAM PELAYANAN: Rekoleksi Panitia Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro

Berita, Majalah, News27 Dilihat

Rekoleksi menjadi momen penting bagi seluruh panitia Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Larantuka, dalam memantapkan semangat pelayanan menjelang peristiwa gerejawi yang bersejarah tersebut. Kegiatan rekoleksi ini berlangsung pada Kamis, 05 Februari 2026, dan diikuti oleh seluruh anggota panitia serta para petugas liturgi yang terlibat langsung dalam persiapan tahbisan.
Rekoleksi dibawakan oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD. Gabriel Unto da Silva, yang akrab disapa Romo Geby. Dalam suasana hening dan reflektif, para peserta diajak untuk kembali meneguhkan dasar rohani dari setiap bentuk pelayanan Gereja, khususnya dalam konteks tahbisan seorang uskup.
Dalam renungannya, Romo Geby menegaskan bahwa seorang uskup pada hakikatnya adalah rasul. Ia diutus oleh Kristus untuk melanjutkan karya perutusan Gereja. Namun, perutusan itu tidak hanya menjadi tanggung jawab pribadi uskup semata, melainkan melibatkan seluruh umat Allah yang mengambil bagian dalam karya kerasulan tersebut. Dengan demikian, panitia tahbisan pun sesungguhnya sedang ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan sendiri.

Rekoleksi Panitia Tahbisan Ukup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

Romo Geby menekankan bahwa perutusan Gereja selalu berawal dari komunio, yakni persekutuan yang hidup dengan Tuhan. Dari persekutuan itulah Tuhan mengutus, sekaligus menganugerahkan kekuatan bagi mereka yang dipanggil untuk melayani. Pelayanan Gereja bukanlah milik manusia, melainkan karya Allah yang dipercayakan kepada umat-Nya. Kesadaran ini menjadi dasar kerendahan hati dalam setiap bentuk pelayanan.
Romo Geby mengingatkan bahwa Yesus selalu mengundang para murid untuk berkumpul dan mendengarkan Dia. Para murid tidak langsung diutus sebelum terlebih dahulu berada bersama Yesus. Demikian pula para pelayan Gereja masa kini dipanggil untuk mengarahkan diri kepada Kristus, sumber kekuatan dan harapan sejati. Orang yang menaruh harapan pada Tuhan akan mampu menjalani pelayanan dengan setia, meski di tengah tantangan dan keterbatasan.
Dalam konteks persiapan tahbisan episkopal, Romo Geby mengajak seluruh panitia untuk menimba inspirasi dari moto episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yakni Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes — Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Harapan, sebagaimana diwartakan dalam Efesus 4:4. Moto ini menjadi benang merah refleksi rekoleksi sekaligus arah spiritual bagi seluruh proses persiapan tahbisan.
Kesatuan sebagai satu tubuh berakar pada Allah Tritunggal. Dalam diri Allah sendiri terdapat kesatuan yang sempurna di tengah keunikan setiap Pribadi Ilahi. Gereja sejak awal juga hidup dalam keanekaragaman karunia dan pelayanan. Kristus adalah Kepala Gereja, sementara umat beriman adalah anggota-anggota Tubuh-Nya. Tubuh hanya dapat hidup dan bertumbuh jika setiap anggota saling terhubung dan bekerja sama. Kebersamaan menjadi syarat agar Gereja mampu menghasilkan buah yang tinggal tetap.

Rekoleksi Panitia Tahbisan Ukup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

Romo Geby juga menyoroti makna satu Roh sebagai nafas kehidupan yang dianugerahkan Allah. Roh Kudus menjadi sumber dari segala karunia dalam Gereja. Setiap karunia merupakan pemberian yang mengandung tanggung jawab, bukan untuk dipertentangkan atau dibandingkan, melainkan untuk saling melengkapi. Perbedaan karunia justru menjadi sarana untuk membangun persatuan dan memperkaya kehidupan Gereja.
Selain itu, refleksi juga diarahkan pada satu harapan yang berakar pada Kristus yang bangkit. Romo Geby mengaitkannya dengan Seruan Paus Fransiskus dalam Bulla Spes Non Confundit yang dikeluarkan pada tahun 2025, yang mengajak umat beriman menjadi peziarah pengharapan. Pengharapan kristiani bukan sikap pasif, melainkan sebuah perjalanan aktif menuju tujuan yang jelas, yang diwujudkan melalui sikap bersyukur, tekun mencari Tuhan, dan terus-menerus bertobat.
Pengharapan akan kebangkitan memberi jaminan akan keselamatan dan kehidupan kekal. Harapan ini tidak hanya menyangkut manusia, tetapi juga seluruh ciptaan. Karena itu, Gereja dipanggil untuk menjadi sumber pengharapan di tengah dunia dengan merawat lingkungan hidup, membangun toleransi, memperjuangkan keadilan, serta memberi perhatian kepada mereka yang kecil dan menderita.
Menutup rekoleksi, Romo Geby mengajak seluruh peserta untuk meneladan Bunda Maria yang setia menyertai Putranya dalam suka dan duka. Seperti sau yang kokoh berpegang pada tali yang kuat, Gereja dipanggil untuk tetap teguh dalam iman dan harapan, agar mampu melayani dengan setia demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat. (Tim Komsos KL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *