PERJUMPAAN YANG MENGHIDUPKAN: Couple for Christ/CFC

Berita, Majalah, News230 Dilihat

Larantuka – Dalam sebuah refleksi penuh makna bersama Pasukris (Couple for Christ) Keuskupan Larantuka di Rumah Retret Sta. Maria, Weri, Jumad 16 Januari 2026, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka menyampaikan pengalaman rohaninya tentang perjumpaan dengan Tuhan dalam komunitas Couples for Christ (CFC). Meski cuaca tak bersahabat, beliau menegaskan bahwa alam selalu membawa pesan, dan setiap perjumpaan adalah kesempatan untuk semakin dekat dengan Tuhan. “Apapun situasi, kita harus siap menjumpai Tuhan, Sang Penyelamat,” ungkapnya.

Perjumpaan Awal dengan CFC

Kisah CFC di Indonesia bermula tahun 1996, ketika RD. Fransiskus Kopong Kung, yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Larantuka mendapat mandat dari Uskup Keuskupan Larantuka saat itu, Mgr. Darius Nggawa, SVD, untuk mempelajari gerakan ini. Dari Jakarta hingga Bogor, Lampung, Bandung, Solo, dan Yogyakarta, beliau mengalami perjumpaan dengan berbagai keluarga – migran, pekerja, hingga kalangan elit – yang semuanya dipersatukan dalam doa dan persaudaraan. Usai kunjungan ini, doa dan refleksi bersama Dewan Nasional akhirnya meneguhkan bahwa CFC masuk ke Larantuka. Seminar perdana digelar di Hokeng, Juni 1996, meski saat itu beliau sendiri harus bergulat dengan sakit yang melemahkan tubuh. “Sakit yang saya alami adalah tanda bahwa Roh Kudus bekerja sempurna,” tuturnya.

Roh Kudus yang Memimpin

Dalam perjalanan panjang, hingga terpilih dan menerima tahbisan episcopal, Mgr. Fransiskus Kopong Kung menyadari bahwa CFC bukanlah karya pribadi, melainkan karya Roh Kudus. Dari doa rumah ke rumah, tantangan demi tantangan, hingga penyembuhan yang ajaib, semuanya menjadi bukti bahwa Roh Kudus mempersatukan keluarga-keluarga dalam kasih. “CFC tidak akan pernah mati. Roh Kuduslah yang menjumpai dan menguatkan kita dalam keluarga di tengah tantangan zaman ini,” tegasnya.

Pesan untuk Masa Depan

Menjelang masa pensiun, beliau menekankan bahwa meski dirinya mundur dari tugas sebagai Uskup, hatinya tetap bersama CFC. Tahun 2026 disebut sebagai kesempatan untuk kembali mengunjungi keluarga-keluarga, berdoa bersama, dan tinggal dalam Kristus sebagai pokok sejati.

“Kita bukan keluarga yang sempurna, tetapi kita dipakai Tuhan untuk membantu banyak keluarga lain. Perjumpaan dengan Tuhan mendorong kita untuk menjumpai sesama,” pesannya penuh harapan. Dengan semangat yang tak pernah padam, Mgr. Fransiskus Kopong Kung mengajak keluarga-keluarga CFC untuk terus memberi ruang bagi doa, ekaristi, dan tobat yang sungguh, agar pelayanan keluarga berbuah. “Couples for Christ tetap menjadi alat Tuhan bagi kebaikan keluarga-keluarga,” tutupnya … Ama Ben,praja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *