MISA PONTIFIKAL MGR. YOHANES HANS MONTEIRO: Meneguhkan Kesatuan dan Menolak Perpecahan

Berita, Majalah, News46 Dilihat

Laporan Anselmus DW Atasoge – Komsos Panitia Tahbisan Uskup

Sehari setelah penahbisan episkopalnya, Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, memimpin Misa Pontifikal perdana di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka pada Kamis (12/2/2026). Perayaan ekaristi yang dihadiri oleh ribuan umat ini menjadi momentum refleksi mendalam mengenai panggilan Gereja lokal di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Misa Pontifikal Mgr. Yohanes Hans Monteiro

Dalam kotbahnya, Mgr. Hans Monteiro menguraikan trilogi rohani yang tak terpisahkan: dipanggil, diutus, dan dipersatukan. Beliau menegaskan bahwa panggilan merupakan inisiatif kasih Allah yang mendahului segala kemampuan manusiawi. Mengutip kisah Nabi Yeremia, beliau menjelaskan bahwa pemilihan Allah didasarkan pada keintiman yang mendalam antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.

Namun, beliau juga memperingatkan bahwa panggilan tersebut tidak menjanjikan jalan yang mudah. Gereja dipanggil untuk menyuarakan kebenaran yang terkadang tidak nyaman, menghadapi potensi penolakan, serta risiko yang nyata dalam pelayanan di dunia.

Mengenai aspek perutusan, Uskup yang baru ditahbiskan ini menekankan karakter universal Gereja yang melampaui sekat-sekat suku dan budaya. Beliau mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam godaan untuk merasa paling benar atau mendominasi pihak lain.

“Gereja mengundang, tidak memaksa; melayani, tidak mendominasi,” tuturnya. Menurut beliau, pembawa damai sejati hanyalah mereka yang mampu menghidupi kedamaian tersebut dalam perjumpaan personal dengan sesama, terutama di tengah perbedaan pandangan yang sering muncul dalam dinamika umat.

Salah satu poin penting yang disoroti Mgr. Hans dalam misa ini adalah tantangan moral yang mengancam kedewasaan iman. Beliau secara eksplisit mengingatkan umat, termasuk para imam, biarawan dan biarawati, agar tidak terombang-ambing oleh pengaruh buruk zaman, seperti fenomena judi online yang merusak sendi-sendi kehidupan keluarga dan iman.

Beliau menegaskan bahwa perbedaan pendapat bukanlah musuh Gereja, melainkan ruang bagi hadirnya rahmat jika dikelola dengan kerendahan hati dan kasih. Baginya, kesatuan Gereja di Larantuka tidak boleh berhenti menjadi slogan strategis, melainkan harus dihidupi melalui rekonsiliasi relasi yang dimulai dari meja ekaristi.

Menutup pesannya, Mgr. Hans menegaskan kembali bahwa seluruh dinamika panggilan dan perutusan bermula dan berakhir di altar. Ekaristi dipandang sebagai rahim yang membentuk umat menjadi Tubuh Kristus yang satu. Dengan moto episkopal “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan), beliau mengajak seluruh umat Keuskupan Larantuka untuk berjalan bersama menuju kedewasaan iman yang nyata dalam kasih.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *