MGR. YOHANES HANS MONTEIRO: Riwayat Hidup, Panggilan, dan Spiritualitas Kegembalaan

Berita, Majalah, News237 Dilihat

LATAR BELAKANG KELUARGA DAN BENIH PANGGILAN AWAL

Yohanes Hans Monteiro, yang akrab disapa Hans, lahir dalam keluarga Larantuka dengan latar budaya yang beragam: ayah Yakobus Monteiro berasal dari suku Monteiro, sedangkan ibu Rosa Daton dari suku Daton. Konstelasi budaya ini membentuk identitas awal yang kaya akan nilai tradisi. Ia memiliki empat saudara: Bartholomeus Nara Monteiro, Fransiskus Monteiro (alm.), Katharina Yetty Monteiro, dan Fransiskus Sevi Monteiro. Kehidupan keluarga yang sarat doa, khususnya melalui Kontas Gabungan – cikal bakal Komunitas Basis Gerejani (KBG) – menjadi ruang rohani yang menanamkan benih panggilan imamat sejak masa kanak-kanak.

Kerinduan Hans terhadap Ekaristi tampak jelas sejak dini. Permainan masa kecilnya sebagai “imam kecil” dengan jagung titi sebagai simbol komuni adalah ekspresi iman yang mengakar dalam keseharian. Simbol sederhana itu memperlihatkan bagaimana pengalaman liturgis dapat meresap ke dalam imajinasi seorang anak dan membentuk orientasi hidupnya.

Hans memulai pendidikan dasar di SDK Larantuka III pada tahun 1977. Masa sekolah ditandai oleh disiplin keras yang mencerminkan pola pendidikan tradisional, namun juga diimbangi dengan kasih sayang guru yang berperan sebagai figur keibuan. Figur-figur Sekolah Dasar yang membentuk dirinya antara lain Dominikus Labina, Paulus Lawe Daton, Petrus Pedo Maran, Ius B. C. da Silva, Jukin Diaz, Maria Waton, dan Hironima Monteiro. Pengalaman sederhana seperti uang jajan 25 rupiah untuk membeli pisang goreng atau es lilin menjadi bagian dari dinamika sosial yang menumbuhkan semangat kebersamaan dan persahabatan. Dari peristiwa kecil ini, Hans belajar bahwa pendidikan tidak sebatas pada soal pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter melalui interaksi sosial.

Keinginan menjadi imam semakin kuat ketika SMP Mater Inviolata mengadakan kunjungan ke Seminari Hokeng. Meski sempat goyah karena pengalaman sederhana, menu makanan yang jauh dari harapan, dorongan Romo Goris Kedang mengubah keraguannya menjadi langkah konkret. Dengan surat rekomendasi sederhana, Hans mengikuti tes masuk seminari dan dinyatakan lulus. Peristiwa ini menunjukkan bahwa panggilan imamat sering kali tumbuh melalui dukungan komunitas dan figur rohani yang hadir dalam momen-momen krusial.

Masa awal di seminari penuh perjuangan, terutama karena kerinduan pada rumah dan makanan keluarga. Namun perlahan ia belajar menyesuaikan diri, menemukan kegembiraan kecil melalui buah-buahan atau lombok dari kebun kopi. Proses adaptasi ini memperlihatkan bahwa panggilan imamat tidak hanya dibentuk oleh pengalaman rohani, tetapi juga oleh kemampuan mengolah keterbatasan menjadi sumber sukacita. Figur imam paroki seperti Pater Paulus Due, Romo Goris Kedang, dan Pater Lorens Hambak menjadi teladan yang meneguhkan panggilannya, memperlihatkan bahwa imamat adalah perjumpaan antara disiplin, pelayanan, dan kedekatan dengan umat.

MEMILIH JALUR IMAMAT KEUSKUPAN DAN PROSES PEMBENTUKAN DI SEMINARI TINGGI

Hans memilih jalur imam projo Keuskupan Larantuka berangkat dari pemahaman sederhana bahwa “Romo” adalah imam yang berkarya di dalam keuskupan. Pilihan awal yang tampak sederhana ini kemudian diperdalam melalui proses pendidikan di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret dan studi di STFK Ledalero. Di sana, panggilan imamat tidak lagi dipahami hanya sebagai status, melainkan sebagai proses formasi yang menuntut kedewasaan rohani, intelektual, dan pastoral.

Dalam dinamika studi, Hans sering jatuh sakit. Kondisi fisik yang rapuh menimbulkan pertanyaan eksistensial: apakah seorang imam yang lemah layak melayani umat? Pertanyaan ini menemukan jawabannya dalam refleksi iman, khususnya melalui teks 2 Korintus 12:9: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Ayat ini menjadi fondasi spiritual yang meneguhkan bahwa imamat bukan bergantung pada kekuatan manusia, melainkan pada rahmat Allah yang bekerja dalam keterbatasan. Moto tersebut kelak menjadi pegangan hidupnya.

Setelah menyelesaikan studi S1 Filsafat, Hans menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Yosef Lewotobi. Pengalaman ditinggal sendirian setelah wafatnya Romo Natalis Napa menjadi pelajaran berharga tentang kesendirian, tanggung jawab, dan kecintaan umat terhadap calon imam. Situasi ini memperlihatkan bahwa panggilan imamat tidak hanya diuji dalam kenyamanan komunitas, tetapi juga dalam kesanggupan menghadapi kesepian dan tetap setia pada pelayanan.

Kembali ke seminari, Hans semakin mantap meneguhkan jalan imamat. Dua tahun terakhir di Ritapiret dipenuhi dengan refleksi mendalam dan pendalaman teologi. Meski kesehatan tetap rapuh, ia memilih sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam kerentanan itu, ia menemukan kekuatan rohani yang menegaskan bahwa imamat adalah panggilan untuk mengandalkan Allah, bukan diri sendiri.

TAHBISAN, PENUGASAN, DAN PERSIAPAN STUDI LANJUT DI WINA AUSTRIA

Hans ditahbiskan sebagai diakon pada 9 Mei 1999 di Ritapiret dan kemudian sebagai imam pada 14 Juli 1999 di Katedral Larantuka. Tahbisan ini tidak berhenti sebagai puncak dari proses formasi panjang, tetapi juga awal dari tanggung jawab baru sebagai gembala umat. Penempatan pertamanya sebagai formator di Seminari San Dominggo Hokeng menegaskan panggilan imamat yang berorientasi pada pendidikan dan pembinaan generasi baru. Dalam peran ini, Hans belajar bahwa imamat tidak hanya berhubungan dengan pelayanan liturgis, tetapi juga dengan tugas mendidik, membentuk karakter, dan menanamkan nilai rohani pada calon imam.

Selama bertahun-tahun berkarya di Hokeng, Hans menunjukkan dedikasi yang konsisten dalam mendampingi para seminaris. Namun, pada tahun 2004, Uskup Darius Nggawa memintanya untuk melanjutkan studi ke Wina, Austria. Permintaan ini menjadi titik balik penting dalam perjalanan imamatnya, karena membuka ruang bagi pengembangan akademik sekaligus memperluas cakrawala pastoral. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa Gereja tidak hanya membutuhkan imam yang setia dalam pelayanan, tetapi juga imam yang memiliki kapasitas intelektual untuk memperkaya kehidupan teologis dan liturgis.

Meski sempat ragu karena keterbatasan bahasa, Hans akhirnya menerima tugas tersebut dengan sikap taat. Keraguan itu mencerminkan keterbatasan manusiawi, tetapi juga menjadi ruang bagi pertumbuhan iman. Pesan Uskup Darius yang menekankan bahwa keberhasilan ditentukan oleh ketekunan, bukan semata kecerdasan, menjadi prinsip yang meneguhkan langkahnya. Prinsip ini sekaligus menegaskan bahwa studi teologi tidak sebatas pada soal kemampuan akademik, melainkan juga soal disiplin, kesabaran, dan kesetiaan pada panggilan.

Dengan bekal keyakinan tersebut, Hans berangkat ke Wina dan memulai perjalanan akademiknya. Keputusan ini memperlihatkan integrasi antara dimensi pastoral dan akademik dalam panggilan imamat: seorang imam dipanggil untuk melayani umat sekaligus memperdalam refleksi teologis demi memperkaya Gereja. Langkah Hans menuju studi lanjut di luar negeri menjadi simbol keterbukaan terhadap dunia yang lebih luas, sekaligus bukti bahwa panggilan imamat selalu berkembang dalam dialog antara tradisi lokal dan pengalaman global.

BELAJAR TEOLOGI LITURGI DAN TUGAS PASTORAL DI WINA, AUSTRIA

Di Wina, Hans mendalami teologi liturgi secara intensif hingga akhirnya meraih gelar doktor pada tahun 2018. Studi ini tidak hanya memperkaya pengetahuan akademiknya, tetapi juga memperdalam pemahaman teologis tentang liturgi sebagai pusat kehidupan Gereja. Proses akademik yang panjang menegaskan bahwa liturgi bukan sekadar ritus, melainkan ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan pengalaman manusia dengan Allah.

Sambil menekuni studi, Hans terlibat aktif dalam pelayanan pastoral di paroki kota maupun desa. Pastoral perkotaan menuntut pendekatan yang lebih personal melalui sapaan, senyuman, dan kehadiran, karena umat berasal dari latar belakang yang beragam, bahkan ada yang tidak beragama. Sebaliknya, pastoral pedesaan berakar pada budaya agraris, di mana pelayanan diwujudkan dalam pemberkatan ladang dan perayaan syukur panen. Kontras ini memperlihatkan fleksibilitas pastoral yang menyesuaikan diri dengan konteks sosial dan budaya umat.

Selain itu, Hans dipercaya memimpin komunitas Katolik Indonesia di Wina. Tugas ini mempertemukannya dengan umat diaspora yang merindukan tanah air, sekaligus menghadapkan mereka pada tradisi Gereja Eropa. Perjumpaan lintas budaya ini memperlihatkan bagaimana iman Katolik dapat hidup dalam keragaman, serta bagaimana identitas religius tetap terpelihara meski berada jauh dari akar budaya asal.

Perpaduan antara pengalaman akademik dan pastoral di Wina memperkaya perspektif Hans tentang Gereja sebagai persekutuan lintas budaya. Ia belajar bahwa Gereja tidak hanya berakar pada tradisi lokal, tetapi juga terbuka pada dinamika global. Dengan demikian, imamat dipahami sebagai panggilan yang mengintegrasikan refleksi teologis, pelayanan pastoral, dan dialog budaya, sehingga Gereja sungguh hadir sebagai Tubuh Kristus yang hidup dalam keberagaman.

KEMBALI KE INDONESIA: DOSEN DAN FORMATOR

Sepulang dari Austria, Hans segera ditugaskan sebagai dosen di IFTK Ledalero sekaligus formator di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Penugasan ini menandai integrasi antara dimensi akademik dan pastoral dalam panggilan imamatnya. Ia menekankan bahwa formasi calon imam harus kembali berakar pada perjumpaan dengan Tuhan sebagai sumber panggilan, bukan semata-mata pada aktivitas sosial. Perspektif ini menegaskan bahwa inti dari pendidikan calon imam adalah pembentukan spiritualitas yang kokoh, yang menjadi dasar bagi segala bentuk pelayanan.

Dalam peran sebagai formator, Hans berusaha memahami dinamika generasi baru calon imam yang hidup dalam konteks zaman berbeda. Ia menyadari bahwa formasi tidak dapat sekadar mengulang pola masa lalu, melainkan harus menyesuaikan diri dengan realitas kontemporer. Namun, penyesuaian itu tidak boleh mengaburkan prioritas utama: relasi pribadi dengan Tuhan. Dengan demikian, formasi dipandang sebagai proses dialogis antara tradisi Gereja dan kebutuhan aktual para calon imam.

Sebagai Wakil Rektor III di IFTK Ledalero, Hans menegaskan pentingnya penyesuaian diri terhadap regulasi pendidikan tinggi yang ditetapkan pemerintah. Ia melihat bahwa kualitas perguruan tinggi ditentukan oleh pengakuan resmi negara, sehingga Gereja perlu memastikan bahwa lembaga pendidikan tetap relevan dan kredibel. Hal ini menunjukkan bahwa imamat tidak hanya berurusan dengan liturgi dan pastoral, tetapi juga dengan tata kelola akademik yang menuntut profesionalisme dan akuntabilitas.

Hidup dalam dua medan, seminari dan perguruan tinggi, menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi serta kepekaan terhadap tanda zaman. Hans belajar bahwa seorang imam sekaligus pendidik harus mampu menjembatani kebutuhan rohani dan tuntutan akademik, sehingga keduanya saling memperkaya. Dengan cara ini, imamat dipahami sebagai panggilan yang dinamis: berakar pada tradisi iman, tetapi terbuka pada perubahan sosial dan regulasi modern, demi memastikan Gereja tetap hadir secara relevan dalam masyarakat.

PROSES PEMILIHAN YANG TAK TERDUGA

Pada  22 November 2025, Paus Leo XIV melalui Nuncio Apostolik menunjuk Hans sebagai Uskup Larantuka, menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang telah memasuki usia pensiun. Penunjukan ini datang secara mengejutkan bagi Hans, sebab ia tidak pernah mengetahui secara pasti proses yang berlangsung di balik layar. Namun, dalam kerendahan hati ia menerima keputusan tersebut sebagai kehendak Tuhan, menegaskan bahwa panggilan imamat senantiasa melampaui rencana pribadi dan bersumber dari misteri ilahi.

Peristiwa ini menandai transisi penting dalam perjalanan hidupnya: dari seorang formator dan akademisi menjadi gembala utama bagi umat Keuskupan Larantuka. Tanggung jawab baru ini menuntut kapasitas intelektual dan pastoral, serentak pula kemampuan untuk memimpin Gereja lokal dalam kesetiaan kepada tradisi sekaligus keterbukaan terhadap dinamika zaman. Dengan demikian, penunjukan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari kontinuitas sejarah Gereja yang selalu mencari pemimpin yang mampu menjembatani iman dan konteks sosial.

Moto episkopal yang dipilih, “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Efesus 4:4), mencerminkan visi teologis yang mendalam. Gereja dipahami sebagai satu tubuh dalam Kristus, yang dipersatukan oleh Roh Kudus dan diarahkan pada pengharapan akan Kerajaan Allah. Moto ini tidak sebatas sebagai sebuah semboyan, melainkan prinsip pastoral yang menegaskan bahwa kesatuan Gereja harus dibangun di atas dasar iman, bukan sekadar pada ikatan sosial atau budaya.

Dengan moto tersebut, Hans hendak menegaskan arah kegembalaan yang berfokus pada tiga dimensi utama: kesatuan umat dalam keberagaman, kehadiran Roh Kudus sebagai sumber daya hidup Gereja yang menyatukan, dan pengharapan eskatologis yang memberi makna pada seluruh ziarah iman menuju kesatuan paripurna. Visi ini memperlihatkan bahwa tugas seorang uskup melampaui peran untuk menjaga struktur organisasi Gereja, tetapi terutama menuntun umat untuk tetap berakar pada Kristus, terbuka pada karya Roh Kudus, dan teguh dalam pengharapan akan janji keselamatan.

SPIRITUALITAS KEGEMBALAAN

Spiritualitas kegembalaan Hans berakar pada sejarah panjang iman umat Larantuka. Sejak kedatangan misionaris Portugis dan Dominikan, kemudian dilanjutkan oleh imam-imam Belanda serta berbagai tarekat religius, struktur Gereja lokal terbentuk melalui proses historis yang kompleks. Bagi Hans, sejarah ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi hidup yang meneguhkan identitas Gereja Larantuka sebagai komunitas yang tumbuh dari benih iman dan pengorbanan para pendahulu.

Dalam refleksinya, Hans melihat bahwa perbedaan budaya dan etnis yang ada di Larantuka tidak boleh dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, keragaman tersebut merupakan kekayaan yang menghidupi Gereja. Ia menekankan bahwa hanya melalui karya Roh Kudus, perbedaan dapat dipersatukan menjadi harmoni, sehingga Gereja sungguh hadir sebagai tubuh mistik Kristus yang hidup dalam keberagaman. Kesatuan dan keragaman yang ditampakkan oleh Gereja di dunia ini merupakan pragambar dan harapan akan kesatuan paripurna universum dan kosmos di dalam Kristus, kepala Tubuh, bila Ia datang dalam kemuliaan-Nya.

Sebagai gembala, Hans menekankan pentingnya membangun kesatuan dalam keberagaman. Kesatuan ini bukan berarti menyeragamkan, melainkan mengarahkan seluruh perbedaan kepada Kristus sebagai pusat. Roh Kudus, dalam pandangannya, adalah sumber daya hidup Gereja yang menggerakkan, memperbarui, dan mempersatukan umat. Tanpa Roh Kudus, Gereja akan kehilangan dinamika rohani dan mudah terjebak dalam formalitas belaka.

PEMIMPIN YANG MENJADI SAKSI

Perjalanan hidup Mgr. Yohanes Hans Monteiro memperlihatkan bahwa panggilan imamat adalah sebuah dinamika yang terus-menerus bergulat antara keterbatasan manusia dan kelimpahan rahmat Allah. Dari jagung titi masa kecil hingga ruang kuliah di Wina, dari kesendirian pastoral di Lewotobi hingga tanggung jawab sebagai dosen dan formator, seluruh pengalaman itu membentuk dirinya menjadi gembala yang matang. Ia menunjukkan bahwa imamat adalah proses pembentukan yang menuntut ketekunan, kesetiaan, dan keberanian untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Kini, sebagai Uskup Larantuka, Mgr. Hans hadir sebagai pemimpin yang menjadi saksi hidup bahwa Gereja bertumbuh dari sejarah, dipersatukan oleh Roh Kudus, dan diarahkan pada pengharapan akan Kerajaan Allah. Spiritualitas kegembalaan yang ia bawa menegaskan bahwa kesatuan dalam keberagaman, kehadiran Roh Kudus, dan orientasi eskatologis adalah fondasi Gereja yang dinamis. Dengan demikian, riwayat hidupnya menjadi inspirasi bagi umat untuk melihat bahwa panggilan Kristiani, dalam segala keterbatasan, selalu dapat menjadi jalan menuju kepenuhan hidup bersama Kristus. (@sly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *