MENEGUHKAN IMAN DAN MENYALAKAN HARAPAN PENDIDIKAN KATOLIK: Pertemuan Konsolidasi MPK Keuskupan Larantuka

Berita, Majalah, News872 Dilihat

Larantuka – Pertemuan Konsolidasi Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Larantuka berlangsung penuh semangat kebersamaan di Rusun Unio Patris Corde pada tanggal 16–17 Januari 2026. Selama dua hari, sebanyak 37 Yayasan Pendidikan Katolik dari Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata berkumpul bersama Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong, Ketua MPK Keuskupan Larantuka RD. Thomas Labina, serta Ketua MPK Keuskupan Maumere, Bapak Roby Keupung. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi, dialog, dan penguatan komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan pendidikan Katolik di tengah tantangan zaman.

Pertemuan Konsolidasi Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Larantuka (16-17/01/2026)

Dalam arahannya, Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong, menekankan makna perjumpaan sebagai jembatan hati yang membawa damai sejahtera. Ia menegaskan bahwa perjumpaan sejati bukan sekadar formalitas atau agenda struktural, melainkan lahir dari keterbukaan hati yang dijembatani oleh kasih. Sejalan dengan pesan Paus Fransiskus dan warisan pemikiran Paus Leo XIV, perjumpaan merupakan jalan menuju pengharapan. Ketika orang mau duduk bersama dengan hati yang berdaulat dan terbuka, banyak jalan dapat dibangun untuk menjalin persatuan dan kerja sama. Dalam konteks pendidikan, ia menyoroti peran Yayasan Katolik yang telah lama hadir dan setia melayani di Keuskupan Larantuka. Meski menghadapi keterbatasan dana dan berbagai tantangan, yayasan tetap dipanggil untuk mengelola visi dan misi secara bertanggung jawab, kreatif menangkap peluang, serta membangun jejaring kerja sama melalui proposal dan kemitraan. Pendidikan Katolik, menurutnya, tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga membentuk anak-anak agar bertumbuh dalam iman. Ia menegaskan bahwa iman Katolik tidak boleh dikorbankan hanya karena tekanan ekonomi atau situasi yang sulit.

Pertemuan Konsolidasi Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Larantuka (16-17/01/2026)

Ketua MPK Keuskupan Larantuka, RD. Thomas Labina, dalam paparannya mengangkat berbagai tantangan nyata yang dihadapi Sekolah Swasta Katolik. Ia menekankan perlunya perhatian serius pemerintah terhadap distribusi guru, kebijakan pendidikan, dan kesejahteraan tenaga pendidik. Salah satu persoalan krusial adalah ketidaksinkronan regulasi penugasan guru ASN dan PPPK. Meskipun Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 membuka peluang penugasan guru ke sekolah swasta, Undang-Undang ASN justru membatasi penempatan di sekolah negeri. Akibatnya, banyak guru ASN ditarik dari sekolah swasta, sehingga semakin memberatkan yayasan. Selain itu, mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru yang sering melampaui daya tampung sekolah negeri berdampak pada berkurangnya jumlah murid di sekolah swasta. Program sekolah gratis pun menambah beban yayasan karena biaya guru tetap harus ditanggung tanpa dukungan memadai. Romo Thomas juga menyoroti kesenjangan kesejahteraan guru ASN dan guru swasta, pentingnya transparansi dana sertifikasi, serta mengusulkan pengaktifan kembali SMK Keguruan untuk menumbuhkan panggilan guru sejak dini. Ia juga menyinggung beban pajak, kewajiban administratif yayasan, serta pemanfaatan dana BOS yang belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan sekolah.

Pertemuan Konsolidasi Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Larantuka (16-17/01/2026)

Sementara itu, Ketua MPK Keuskupan Maumere, Bapak Roby Keupung, menekankan bahwa pengelolaan pendidikan Katolik harus berlandaskan tiga nilai utama: persembahan, solidaritas, dan persatuan. Persembahan dimaknai sebagai kesediaan total melayani pendidikan sebagai panggilan Gereja. Solidaritas menuntut kerja bersama seluruh unsur pendidikan sebagai satu tubuh, sementara persatuan menjadi kekuatan untuk menghindari ego sektoral. Dengan tata kelola yang transparan, visi iman yang jelas, dan kerja sama yang solid, sekolah Katolik diharapkan terus dipercaya masyarakat sebagai tempat pembinaan kaum muda secara utuh dan berkelanjutan.

Pertemuan Konsolidasi Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Larantuka (16-17/01/2026)

Pertemuan konsolidasi ini akhirnya meneguhkan kembali komitmen bersama bahwa pendidikan Katolik bukan sekadar ruang belajar, melainkan medan perjumpaan iman yang membentuk masa depan Gereja dan bangsa. Dari Rusun Unio Patris Corde, semangat kebersamaan ini diharapkan terus menyinari para Penggiat Pendidikan terutama yang berada di wilayah Flores Timur, Lembata, dan seluruh Keuskupan Larantuka. Pendidikan Katolik diharapkan untuk tetap eksis dengan membangun kebersamaan, membuka diri terhadap peluang, dan saling mendukung. Perjumpaan, kebersamaan, dan jembatan kasih menjadi fondasi utama pendidikan Katolik yang berakar pada iman serta memberi kontribusi nyata bagi Gereja dan bangsa. (Jourriz Kwen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *