MEMBANGUN SOLIDARITAS EKONOMI SEBAGAI TANDA PENGHARAPAN: Surat Gembala Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 Keuskupan Larantuka

News, Renungan44 Dilihat

Para Imam, Biarawan-Biarawati, Kaum Muda, Anak-Anak, dan Saudara-Saudari Umat sekalian yang terkasih dalam Kristus
1. Selamat memasuki masa Prapaskah 2026. Tuhan menyiapkan kita waktu empat puluh hari untuk mendengarkan Dia dan merefleksikan kehadiran-Nya dalam aksi nyata solidaritas dan tobat baik terhadap sesama maupun semesta. Kita didorong untuk memaknai masa khusus ini untuk memperteguh iman, membangun pengharapan yang utuh dan memperluas kasih. Tema Aksi Puasa Pembangunan 2026 Keuskupan Larantuka adalah MEMBANGUN SOLIDARITAS EKONOMI SEBAGAI TANDA PENGHARAPAN. Tema ini mengajak kita untuk menyadari pentingnya membangun solidaritas ekonomi sebagai tanda pengharapan. Terinspirasi dari tahun program pastoral 2026 yang dipromulgasikan pada tanggal 4 Januari 2026, kita juga memaknai tema APP 2026 ini sebagai salah satu bagian penting dari proses penyadaran bahwa kehidupan ekonomi tidak terlepas dari penghayatan iman.
2. Menarik sekali mendengarkan warta Sabda Tuhan hari ini tentang realitas kebaikan Tuhan terhadap manusia di satu pihak dan potret buram kejatuhan manusia di lain pihak. Bacaan pertama menyajikan kisah klasik tentang “dosa asal” manusia pertama (bdk Kej. 2:7-9; 3:1-7). Mula pertama dikisahkan tentang kebaikan Tuhan. Kebaikan-Nya tampak ketika menciptakan manusia dari tanah dengan diberi unsur pembeda dari makhluk lain, yakni nafas Allah sendiri. Tuhan sendiri memberikan kehidupan baginya. Ada lingkungan hidup yang indah diciptakan-Nya untuk manusia. Ada buah yang baik disiapkan untuknya sebagai makanan. Pertanyaan kita, “Apa yang masih kurang bagi manusia?” Kehidupan, rumah, dan makanan (nafkah) disediakan Tuhan. Tetapi realitas tersebut berubah ketika dosa masuk dalam dunia dan mengacaukan relasinya dengan Tuhan.
3. Santo Paulus kepada umat di Roma menggarisbawahi hal yang sama bahwa dosa dan maut masuk ke dunia melalui Adam, manusia pertama, tetapi kasih karunia dan kebenaran Allah yang melimpah datang melalui Yesus Kristus, Adam Kedua, yang membebaskan semua orang yang percaya dari penghukuman dosa. Kristus memberikan pembenaran serta menjamin kehidupan kekal sebagai anugerah kepada manusia. Bukti terkuat adalah ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa-Nya untuk memulihkan apa yang dirusak oleh ketidaktaatan Adam, menjadikan orang percaya menjadi orang benar (bdk Roma 5:12-19). Gambaran Santo Paulus ini menunjukkan bahwa ketaatan pada kehendak Bapa menjadi pintu masuk kepada kehidupan yang lebih baik. Teladan ketaatan demikian ditunjukkan oleh Yesus saat berpuasa 40 hari di padang gurun. Yesus dicobai Iblis untuk menggunakan kuasa ilahi demi kepentingan pribadi (mengubah batu menjadi roti), bahkan ditantang menguji kuasa Allah (melompat dari bubungan Bait Allah), bahkan diminta menyembah Iblis demi kekuasaan duniawi. Namun sungguh semuanya itu ditolak Yesus dengan tegas, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat 4:10). Akhirnya Iblis pun pergi serta malaikat datang melayani Yesus. Ketaatan mutlak kepada Allah ditunjukkan Yesus ketika mengalahkan godaan Iblis dengan mengandalkan Sabda Tuhan.
4. Saudara-saudari terkasih dalam Kristus. Kita diajak merefleksikan tema APP 2026 dalam terang Sabda Tuhan. Sesungguhnya Tuhan sangat mencintai kita ciptaan-Nya dengan menyediakan segala yang kita butuhkan. Tetapi karena dosa dan ketidaktaatan kita kepada janji-Nya, kita pun akhirnya melarat dan menderita. Dari sinilah kita belajar bahwa ketahanan ekonomi sangat bergantung pada ketaatan iman. Di mana-mana kita sudah mendengar banyak kisah, “demi ekonomi, iman digadaikan”. Tentu saja saat ini kita tidak sedang membicarakan satu per satu masalah ekonomi rumah tangga kita, dan tidak juga membahas solusi atas setiap persoalan tersebut. Tetapi melalui tema APP ini, kita perlu memastikan bahwa ketahanan ekonomi merupakan tanggung jawab bersama, sebagaimana halnya iman. Komunitas umat beriman harus menjadi basis yang kuat, karena di sanalah kita menghidupkan solidaritas itu. Karena itu, kita perlu sepakat bahwa nilai solidaritas dan pengharapan hendaknya dibangun berbasis komunitas. Sejalan dengan refleksi masa prapaskah ini, kita diminta mengimplementasikan di sepanjang tahun ini aksi-aksi konkret katekese dengan program prioritas kita adalah pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman.
5. Karena itu, kami menggarisbawahi sejumlah poin. Pertama, ajakan membangun solidaritas ekonomi sebagai tanda pengharapan menyadarkan kita untuk bersama-sama mengupayakan sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Tentu saja upaya ini tidak saja dilakukan orang per orang secara individu, tetapi berbasis komunitas. Yang ditonjolkan adalah nilai kerja sama
dan kebiasaan gotong-royong, gemohing (Lamaholot), atau mohing danung (Kedang). Kearifan budaya lokal peninggalan leluhur perlu terus dihidupkan, seperti tulun talin atau genawung (Lamaholot) atau orang Larantuka biasa sebut kumpu kampo, tulon tamba; atau orang Kedang sebut pohing ling-holo wali. Semua nilai ini perlu menjadi kekhasan solidaritas kita untuk diwariskan ke generasi selanjutnya. Kedua, kita perlu menyoroti realitas ekonomi sebagai tanda pengharapan. Inspirasi ini sebenarnya membawa dalam dirinya sebuah manifestasi iman yang terungkap dalam kasih dan solidaritas yang nyata. Kata kunci “tanda pengharapan” merujuk pada keyakinan yang kuat akan terwujudnya sesuatu yang baik (Cf. Spes non Confundit – harapan tidak mengecewakan). Bisa dianalogikan seperti sebuah pilar yang kokoh bagi jiwa dalam menghadapi aneka tantangan dan kesulitan. Tentu saja muatannya bukan sekadar optimisme, melainkan kepastian akan janji Allah yang memberikan harapan dan kekuatan agar kita tetap teguh dalam iman dan arah pandang kita bermuara masa depan yang lebih baik.
6. Poin ketiga yang juga penting adalah tanda pengharapan ekonomi dapat diwujudkan dalam bentuk kemandirian finansial. Kita memastikan bahwa kemandirian finansial tidak sekadar slogan dalam program pastoral kita, tetapi sungguh sebuah kesadaran dalam tata kelola ekonomi rumah tangga yang utuh. Keluarga-keluarga perlu secara cermat mengatur penghasilan dan pembelanjaan rumah tangga. Kesadaran ini sangat mempengaruhi kebijakan-kebijakan sederhana dalam rumah tangga, misalnya kebiasaan menghemat, menabung dan terlibat dalam lembaga keuangan mikro (CU, UBSP, SILC- Saving and Internal Lending Community, dan lain-lain). Bahkan di mana-mana sudah banyak kelompok yang sepakat menyederhanakan pesta, dan mengurangi risiko pemborosan. Kita perlu bersikap tegas dengan diri sendiri untuk mengatakan TIDAK pada pemborosan karena pesta, dan TIDAK pada judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol). Kita mendukung para pihak yang berikhtiar merancang tata kelola ekonomi yang baik sampai kepada penyederhanaan pesta dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah. Di samping itu, poin keempat yang juga penting, yakni tentang kata kunci “pemberdayaan”. Pemberdayaan mengacu pada upaya meningkatkan potensi, kemandirian, dan kapasitas. Kita perlu membuka kesempatan melalui pembinaan, pelatihan, dan penguatan kapasitas bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), kelompok rentan, dan keluarga migran-perantau untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Hal demikian akan memungkinkan terbangunnya kedaulatan ekonomi, di mana kita berhak menentukan dan memutuskan bagaimana menghasilkan (produksi), mengkonsumsi, dan sebagian dijual. Dengan cara demikian, kita tidak akan dikontrol dan dikuasai oleh pemilik modal atau pihak luar yang lebih berkuasa. Kita memastikan bahwa ekonomi kita sehat dan kuat.
7. Kita mendorongagar CU (Credit Union) Sinar Saron di Keuskupan Larantuka dan CU Caritas di Paroki Lewoleba masuk ke KBG-KBG di Keuskupan kita, menjadi salah satu alat keuangan bagi komunitas umat di KBG-KBG. Upayakan agar satu atau dua KBG di setiap paroki dapat menjadi contoh, model, sebagai “pilot project” untuk hal ini.
8. Saudara-saudari terkasih, marilah kita masuk dalam komunitas kita masing-masing, di KBG-KBG, mempercakapkan bersama realitas kehidupan ekonomi kita dalam katekese sepanjang masa prapaskah ini. Kita menjalankan bersama secara per tahap, dari minggu ke minggu, mulai dari melihat realitas kehidupan ekonomi di wilayah kita pada Minggu I, kemudian membangun idealisme dan harapan pada Minggu II, merefleksikan panggilan berkat mandat sakramen yang telah kita terima pada Minggu III, menyadari tantangan baik dari dalam maupun dari luar, yang bermuara pada tobat pada Minggu IV, hingga kita membangun komitmen lebih kuat bersama Roh Yesus yang bangkit demi masa depan ekonomi yang lebih baik pada Minggu V.
9. Di awal masa kegembalaan ini, marilah bersama dalam Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan (Ef 4:4), dan dalam jiwa Gereja yang sinodal, kita berkomitmen untuk terus maju dalam iman yang teguh, pengharapan yang pasti dan kasih yang berlimpah. Semoga Tuhan memberkati, Bunda Maria, Tuan Ma, Reinha Larantuka mendoakan kita.

† Yohanes Hans Monteiro
Uskup Larantuka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *