MEMBANGUN PERSATUAN DALAM SATU TUBUH, SATU ROH, DAN SATU PENGHARAPAN: Ibadat Vesper Agung Mengantar Mgr. Yohanes Hans Monteiro Menuju Takhta Kegembalaan

Berita, Majalah, News142 Dilihat

Laporan Anselmus DW Atasoge – Komsos Keuskupan Larantuka

Suasana khidmat menyelimuti Gereja Santa Maria Pembantu Abdi Weri, Dekenat Larantuka, pada Selasa sore hingga malam, 10 Februari 2026. Sehari menjelang upacara penahbisan Uskup Larantuka, ribuan umat bersama para petinggi Gereja Katolik berkumpul melaksanakan Vesper Agung, sebuah ibadah sore mulia yang menjadi gerbang spiritual bagi pemimpin baru Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro.

Ibadat Vesper Agung Mengantar Mgr. Yohanes Hans Monteiro Menuju Takhta Kegembalaan (10/02/2026)

Dalam ibadat ini di hadapan Mgr. Michael A. Pawlowicz selaku pejabat Kedutaan Vatikan untuk Indonesia, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia, serta para Uskup se-Indonesia, Mgr. Hans secara resmi mengucapkan janji setia kepada Takhta Suci Vatikan. Dalam rangkaian vesper agung yang dipimpin Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Keuskupan Ruteng tersebut, dilakukan pula pemberkatan ‘insignia’, yakni perlengkapan atribut keuskupan yang akan dikenakan oleh sang uskup baru sebagai simbol otoritas dan pelayanan kegembalaannya.

RD. Philip Ola Daen menyampaikan khotbah bernas yang membingkai makna penahbisan Uskup terpilih Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Sebagai Formator Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret dan Dosen IFTK Ledalero, RD. Philip menekankan dua pilar utama bagi sang gembala baru dan seluruh umat yakni fokus pada Tuhan dan hidup untuk Tuhan.

Mengacu pada teks 1 Korintus 7:32, RD. Philip menegaskan bahwa hidup tanpa kekuatiran bukanlah sebuah kondisi psikologis, melainkan sebuah keputusan iman untuk tidak membiarkan perhatian terfragmentasi oleh hal-hal di luar Tuhan. Pemahaman ini menjadi fondasi bagi seorang gembala yang dipanggil untuk memusatkan seluruh pikiran dan batinnya hanya pada perkara-perkara ilahi. Dengan fokus yang jernih, seorang pelayan Tuhan mampu menjaga orientasi hidupnya agar tetap selaras dengan kehendak Allah dan tidak terseret oleh arus kebingungan duniawi.

Dalam konteks pelayanan, prioritas utama seorang gembala adalah memastikan seluruh perhatiannya tertuju sepenuhnya pada Tuhan guna menjauhi godaan perkara duniawi seperti uang, jabatan, kekuasaan, dan popularitas. Hal ini berkaitan erat dengan hakikat jabatan Mgr. Yohanes Hans Monteiro yang dipanggil untuk menjadi pelayan, bukan penguasa bagi umat beriman. Kehadiran Uskup terpilih diharapkan mampu mencerminkan kepedulian yang mutlak kepada Tuhan sehingga setiap kebijakan dan tindakannya senantiasa memancarkan nilai-nilai Injili.

Lebih lanjut, RD. Philip menekankan adanya ketergantungan mutlak seorang Uskup kepada Sang Pencipta dengan mengutip ayat dari Yohanes 15:5. Ia mengingatkan bahwa tanpa bersatu dengan Tuhan, seorang Uskup tidak akan memiliki kemampuan apa pun dalam menggembalakan kawanannya secara efektif. Oleh karena itu, mengandalkan kekuatan Tuhan sebagai sumber utama kinerja adalah kunci bagi Mgr. Hans dan seluruh umat untuk dapat bertumbuh dalam satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan yang kokoh.

Ibadat Vesper Agung Mengantar Mgr. Yohanes Hans Monteiro Menuju Takhta Kegembalaan (10/02/2026)

RD. Philip menggali makna kekudusan atau ‘Hagios’ sebagai kondisi disucikan untuk menjadi milik Tuhan sepenuhnya, yang bukan merupakan hak eksklusif kelompok tertentu melainkan perintah bagi seluruh umat Allah. Kekudusan ini harus mewujud dalam kasih yang nyata melalui implementasi sosial, khususnya dalam pelayanan kepada kaum miskin dan mereka yang terpinggirkan. Penekanan emosional diberikan agar Gereja senantiasa hadir secara konkret di tengah masyarakat, sehingga tragedi kemanusiaan yang menyayat hati seperti yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dan NTT, tidak terulang kembali di masa depan.

Sebagai gembala baru, Mgr. Hans memiliki kewajiban moral untuk memberikan teladan kekudusan melalui kesederhanaan hidup serta sikap rendah hati dalam penggembalaannya. Pengkhotbah mengingatkan melalui kutipan 2 Korintus 4:7 bahwa manusia sesungguhnya hanyalah bejana tanah liat yang dipercayakan Allah untuk menyimpan harta ilahi-Nya yang berharga. Kesadaran akan kerapuhan insani ini diharapkan mampu menjaga integritas Mgr. Hans dalam menjalankan tugas suci, sembari terus mengupayakan pengembangan kekudusan bagi seluruh kaum beriman sesuai dengan panggilan khas masing-masing.

Di akhir kotbahnya, RD. Philip menyampaikan pesan reflektif tentang kemendesakan panggilan kekudusan di zaman ini. Ia mencatat sebuah paradoks sosial: di era modern, dunia sangat mudah menemukan orang pintar, namun sangat sulit menemukan orang yang sungguh-sungguh kudus. Khotbah ini menjadi pengingat kuat bagi Mgr. Hans Monteiro dan umat Keuskupan Larantuka untuk terus membangun persatuan dalam “satu Tubuh, satu Roh, dan satu pengharapan”.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *