MELALUI MEREKA YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS, TUHAN MENAMPAKKAN DIRI DAN ADA DEKAT DENGAN KITA: Mgr. Yohanes Hans Monteiro Merayakan  Minggu Prapaskah Kedua di Panti Asuhan Bakti Luhur Larantuka

Berita, Majalah, News322 Dilihat

LARANTUKA – Minggu, 1 Maret 2026, fajar menyingsing di ufuk timur Larantuka dengan membawa suasana yang tidak biasa bagi komunitas Susteran ALMA dan anak-anak Panti Asuhan Bakti Luhur. Pagi itu, kapela kecil yang biasanya tenang berubah menjadi pusat perhatian umat. Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, melangkahkan kaki ke tempat ini bukan sekadar untuk menjalankan kunjungan pastoral, melainkan untuk membawa “Cahaya Kemuliaan Tuhan” ke tengah-tengah mereka yang sering kali terpinggirkan oleh hiruk-pikuk dunia.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro Merayakan Minggu Prapaskah Kedua di Panti Asuhan Bakti Luhur Larantuka (01/03/2026)

Perayaan Ekaristi Minggu Kedua Prapaskah ini menjadi momen transfigurasi nyata. Jika dalam Kitab Suci Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di atas Gunung Tabor, maka pagi itu, kemuliaan yang sama dirasakan hadir di dalam kesederhanaan Kapela Susteran ALMA. Sejak pukul 05.30 WITA, umat di sekitar panti mulai mengalir menuju kapela ini. Ketika lonceng berdentang pada pukul 06.00, bangku-bangku kayu di dalam ruangan sudah tidak lagi menyisakan tempat. Hal ini memaksa puluhan umat lainnya untuk rela duduk di teras depan dan samping kapela. Meski hanya beralaskan lantai dingin, kekhidmatan tidak berkurang sedikit pun. Mereka datang dengan satu kerinduan: merayakan misa yang dipimpin langsung oleh sang Gembala Utama Keuskupan Larantuka.
Pemandangan di altar pun sangat menyentuh. Karena imam di wilayah ini sedang melayani di umat di tempat lain, Mgr. Hans berdiri sendiri di meja altar tanpa imam pendamping. Namun, beliau tidak benar-benar sendiri. Di sampingnya, para misdinar yang terdiri dari anak-anak panti, baik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus, bertugas dengan penuh disiplin. Di sudut lain, kelompok “mama-mama” yang setia membantu suster menyemaraki ekaristi dengan paduan suara, melantunkan pujian yang menggetarkan nubari.
Pada bagian pengantar, Mgr. Hans menyampaikan bahwa titik terang ziarah iman selama masa Prapaskah sudah mulai tampak, meski belum selesai. Titik terang itu, menurut beliau, ada pada wajah-wajah di hadapan kita dalam perayaan ini. “Melalui anak-anak panti, mereka yang berkebutuhan khusus dan dengan perantaraan karya karitatif para suster, Tuhan sebenarnya menampakkan diri dan ada dekat dengan kita. Tuhan tidak jauh; Dia di sini dan menyapa kita semua dengan belas kasih-Nya,” ujar Mgr. Hans. Perkataan ini menjadi motivasi yang menguatkan para pengasuh dan anak-anak panti dan menegaskan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi kehadiran ilahi.
Memasuki sesi khotbah, Mgr. Hans mengajak umat yang hadir menyelami makna “enam hari” dalam kisah Transfigurasi. Beliau menarik garis paralel antara kisah Yesus dengan pengalaman Musa di Gunung Sinai. Menurut beliau, enam hari merepresentasikan rutinitas kerja, ambisi, dan pergulatan duniawi manusia. “Kita diajak untuk melihat diri, apakah dalam enam hari kerja itu, kita juga memberi diri untuk mendengarkan suara Tuhan?” tanya beliau retoris. Mgr. Hans mengingatkan bahwa seringkali kedudukan, status sosial, dan kenyamanan hidup membuat telinga batin manusia menjadi tuli. Orang cenderung merasa sudah cukup dengan dirinya sendiri sehingga enggan memberikan ruang bagi Tuhan.
Beliau menekankan bahwa Injil hari ini adalah sebuah alarm bagi setiap umat beriman untuk berani keluar dari zona nyaman. Amanat dari balik awan di Gunung Tabor sangat jelas: “Dengarkanlah Dia.” Mendengarkan Tuhan berarti bersedia melepaskan ego dan kenyamanan demi mengikuti kehendak-Nya yang seringkali hadir dalam rupa pelayanan kepada sesama.
Setelah berkat penutup diberikan, suasana agung berubah menjadi penuh kekeluargaan. Kepala Biara Susteran ALMA, Sr. Mince, ALMA dengan suara bergetar menyampaikan syukur atas kehadiran Bapa Uskup yang sudi mengunjungi komunitas kecil mereka. Sebaliknya, Mgr. Hans pun tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
Momen paling mengharukan terjadi saat acara ramah tamah. Usai menikmati secangkir kopi pahit tanpa gula di pendopo, Mgr. Hans menuju ruang makan anak-anak panti. Di sana, sekitar dua puluh anak sudah duduk dengan rapi dan tenang. Sang Gembala tidak langsung menuju meja makannya sendiri; beliau menghampiri anak-anak tersebut, bersenda gurau, dan memimpin doa berkat sebelum mereka mulai menyantap sarapan.
Meskipun banyak anak yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, Mgr. Hans tampak sangat menikmati interaksi tersebut. Senyuman yang terpancar dari wajah anak-anak berkebutuhan khusus itu seolah menjadi jawaban atas semua khotbah teologis yang disampaikan di altar tadi. Kasih tidak butuh suara; ia butuh kehadiran.
Dalam perbincangan dengan para suster, Mgr. Hans memberikan dukungan penuh terhadap visi Biara ALMA untuk terus “memanusiakan manusia.” Beliau mengapresiasi kerja keras para suster dalam memberikan keterampilan bagi anak-anak panti agar kelak mereka bisa mandiri dan berkarya di tengah masyarakat.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro Merayakan Minggu Prapaskah Kedua di Panti Asuhan Bakti Luhur Larantuka (01/03/2026)

Kunjungan pagi ini diakhiri dengan sesi foto bersama yang penuh tawa. Umat berebut untuk mencium tangan Bapa Uskup, sebuah tradisi penghormatan yang kental di Larantuka. Suasana di Biara Susteran ALMA pagi ini benar-benar dipenuhi oleh damai. Cahaya kemuliaan Tuhan yang dibawa oleh Mgr. Yohanes Hans Monteiro bukan sekadar konsep abstrak, melainkan mewujud dalam cangkir kopi, dalam doa di meja makan, dan dalam pelukan hangat seorang Bapak bagi anak-anaknya yang paling rapuh. (Apong Boruk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *