JEJAK SINGKAT SANG PEZIARAH: Romo Marno Wuwur Berpulang dalam Dekapan Kasih Tuhan

Berita, Majalah, News1859 Dilihat

LEWOLEBA – Kabar duka menyelimuti Gereja Katolik Keuskupan Larantuka. Seratus satu hari, terhitung dari hari Tahbisan Imamatnya, RD. Marianus Hali Wuwur, atau yang akrab disapa Romo Marno, akhirnya dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Kehidupan. Imam muda yang ditahbiskan pada 17 Oktober 2025 ini menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Lewoleba pada Minggu, 25 Januari 2026, pukul 12:30 WITA.

Foto: RD. Marianus Hali Wuwur ketika ditahbiskan menjadi Imam (Lewopenutung, 17 Oktober 2025)

Kepergian Romo Marno meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan imam, dan seluruh umat. Betapa tidak, di usia yang masih sangat muda, 28 tahun, dan masa imamat yang baru seumur jagung, beliau harus mengakhiri ziarah hidupnya setelah berjuang melawan gangguan kesehatan yang dideritanya.

Perjuangan Melawan Sakit di Tengah Panggilan

Jalan sunyi menuju altar Tuhan yang dilalui Romo Marno tidaklah mudah. Gangguan kesehatan mulai menyerangnya sejak ia menjalani praktik Diakonat di Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong. Meski raga mulai melemah, semangat pelayanannya tidak pernah luntur.

Pasca tahbisan imamatnya yang meriah di tanah kelahirannya, Lewopenutung, Romo Marno sempat diberi waktu khusus untuk fokus pada pemulihan kesehatan. Ia menjalani masa perawatan di Rumah Sakit St. Damian Lewoleba. Namun, dalam beberapa hari terakhir, kondisi kesehatannya menurun drastis hingga harus dirujuk ke RSUD Lewoleba sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Foto: RD. Marianus Hali Wuwur ketika ditahbiskan menjadi Imam (Lewopenutung, 17 Oktober 2025)

“Apakah Engkau Orang Asing?”: Sebuah Warisan Spiritual

Romo Marno memilih kutipan dari Injil Lukas 24:18 sebagai motto tahbisannya: “Apakah Engkau Orang Asing?”. Pertanyaan yang diajukan Kleopas kepada Yesus yang bangkit dalam perjalanan ke Emaus ini bukan sekadar kalimat tanya bagi Romo Marno. Ini adalah visi pelayanannya.

Beliau bermimpi menjadi imam yang tidak berjarak dengan umat. Beliau ingin hadir sebagai sahabat bagi mereka yang merasa “asing” di dalam gereja, mereka yang terpinggirkan, dan mereka yang butuh didengarkan. Meski masa imamatnya yang sangat singkat, pesan spiritual ini telah menjadi kesaksian nyata bahwa imamat bukan soal jabatan, melainkan tentang kesederhanaan dan kerendahan hati untuk berjalan bersama sesama.

Profil dan Perjalanan Imamat

Lahir di Lewopenutung pada 1 September 1997, Marianus Hali Wuwur adalah anak kedua dari enam bersaudara. Ia lahir dari keteguhan iman pasangan Konrardus Dori Wuwur dan almarhuma Agnes Ukung Melting. Tumbuh di Lamalera, desa yang dikenal dengan tradisi iman Katolik yang kuat, Marno kecil sudah akrab dengan doa dan kerja keras.

Pendidikan calon imamnya dimulai dari Seminari San Dominggo Hokeng (2012–2016), dilanjutkan dengan Tahun Orientasi Rohani di Himotiong. Setelah menuntaskan studi Filsafat di STFK Ledalero dan menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di SMAS Katolik St. Darius Larantuka, ia melanjutkan studi Teologi. Keikhlasannya mengikuti Kristus ditandai dengan Sumpah Selibat pada Juni 2025, sebelum akhirnya menerima rahmat tahbisan imam oleh Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr.

Foto: RD. Marianus Hali Wuwur ketika ditahbiskan menjadi Imam (Lewopenutung, 17 Oktober 2025)

Rencana Pemakaman dan Protokol Darurat

Mengingat kondisi cuaca yang ekstrem dan keadaan laut yang belum tenang di wilayah Kepulauan Flores dan Lembata, pihak Keuskupan telah mengambil kebijakan khusus. Atas izin Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, jenazah Romo Marno akan dimakamkan di Pekuburan St. Damian, bukan di pemakaman umum para imam di Larantuka, demi alasan keamanan dan keselamatan.

Berikut adalah jadwal prosesi penghormatan terakhir bagi Romo Marno:

  • Minggu, 25 Januari 2026: Misa Requiem di Gereja Paroki Sts. Maria Banneux, Lewoleba, pukul 18:00 WITA.
  • Senin, 26 Januari 2026: Jenazah dihantarkan ke kapela RS St. Damian pukul 17:00 WITA, dilanjutkan Misa Requiem pukul 18:00 WITA.
  • Selasa, 27 Januari 2026: Misa Pelepasan pukul 09:00 WITA di kapela St. Damian, dilanjutkan dengan upacara pemakaman di Pekuburan St. Damian.

Foto: RD. Marianus Hali Wuwur ketika ditahbiskan menjadi Imam (Lewopenutung, 17 Oktober 2025)

Selamat Jalan, Gembala Rendah Hati

Dunia mungkin melihat masa imamat Romo Marno sangat pendek—hanya kurang lebih tiga bulan. Namun, bagi Tuhan, kesetiaan tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kedalaman kasih. Romo Marno telah menyelesaikan pertandingannya dengan baik. Ia tidak lagi menjadi “orang asing” di Surga, melainkan telah disambut sebagai hamba yang setia.

Segenap umat diundang untuk hadir dalam doa dan perayaan ekaristi guna menghantar kepergian sang imam ke rumah Bapa. Selamat jalan, Romo Marno. Doakanlah kami yang masih berziarah. (@sly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *