LEWOLEBA – Selasa, 27 Januari 2026, Kapela St. Damian Lewoleba menjadi saksi perayaan Ekaristi pemakaman RD. Marianus Hali Wuwur, yang akrab disapa Romo Marno. Misa dipimpin oleh Deken Lembata, RD. Philipus Sinyo da Gomez, dihadiri para imam, biarawan, biarawati, kaum keluarga, tokoh pemerintah serta umat Allah. Pengkotbah dalam perayaan ini adalah Sekretaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD. Fransiskus Kwaelaga, yang mengangkat inspirasi Injil Lukas 24:13–27 sebagai pijakan refleksi.

RD. Marianus Hali Wuwur – Imam Projo Keuskupan Larantuka.
Dalam kotbahnya, Sekjen Keuskupan Larantuka menyoroti motto tahbisan Romo Marno: “Apakah Engkau orang asing?”. Pertanyaan ini menjadi refleksi mendalam tentang perjalanan iman. Apakah Tuhan hadir sebagai orang asing dalam hidup kita, atau justru kita sendiri yang berziarah sebagai orang asing menuju rumah Bapa? Romo Marno, dalam imamatnya yang singkat, menghayati salib penderitaan sebagai jembatan antara dunia fana dan kehidupan kekal. Gambaran salib ini selaras dengan kepercayaan Lamaholot tentang tiang utama rumah, simbol yang menegaskan rasa hormat dan kekuatan iman.

Upacara Pemakaman RD. Marianus Hali Wuwur (RS. St. Damian Lewoleba, 27 Januari 2026)
Wakil keluarga, Damas Melting, membuka sambutannya dengan sebuah elegi penyerahan kepada Tuhan yang ia tulis saat menjaga Romo Marno di rumah sakit. Damas menyampaikan terima kasih kepada Bapa Uskup yang telah menahbiskan Romo Marno, meskipun dalam pergulatan hukum gereja terkait kondisi kesehatan Romo Marno. Damas juga membagikan pesan terakhir Romo Marno kepadanya: “Bapa, pakai helm kalau berkendara.” Pesan sederhana ini mencerminkan kepedulian Romo Marno yang tulus. Damas menegaskan bahwa kematian Romo Marno adalah kehilangan besar bagi Paroki Lamalera, yang pada tahun 2025 telah menyumbangkan tiga putra menjadi imam. Ia berharap peristiwa ini menumbuhkan benih panggilan baru di Paroki St. Petrus dan Paulus Lamalera.

Upacara Pemakaman RD. Marianus Hali Wuwur (RS. St. Damian Lewoleba, 27 Januari 2026)
Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga yang rela menyerahkan putranya menjadi imam Tuhan, meskipun harus menerima kepergian yang begitu cepat. Ia juga menyampaikan rasa duka cita mendalam atas kehilangan ini.
Deken Lembata, RD. Philipus Sinyo da Gomes mewakili Keuskupan, menyampaikan limpah terima kasih kepada seluruh umat dan pihak yang terlibat dalam acara duka. Ia mengisahkan dilema Bapa Uskup sebelum menahbiskan Romo Marno, yang sempat diragukan karena sakitnya. Namun berkat penjelasan Sr. Dokter Ludgardis, CIJ, seorang dokter yang berkarya di RS St. Damian Lewoleba, akhirnya tahbisan tetap dilaksanakan. Romo Deken juga mengenang kegembiraannya saat Romo Marno datang beberapa minggu sebelum Natal untuk meminta minyak sakramen, tanda bahwa ia masih bersemangat melayani umat Allah.

Upacara Pemakaman RD. Marianus Hali Wuwur (RS. St. Damian Lewoleba, 27 Januari 2026)
Setelah misa, dilanjutkan dengan Ibadat Pemakaman Romo Marno yang dipimpin oleh tiga teman angkatannya yakni, RD. Fransiskus Viligius Du’a, RD. Goris Lawe Weking, dan RD. Antonius Kopong Open. Kehadiran mereka menjadi simbol persaudaraan imamat yang erat. Banyak umat turut hadir, menegaskan betapa Romo Marno dicintai oleh umat.
Romo Marno dikenal sebagai pribadi sederhana, rendah hati, dan penuh kasih. Ia bukan sosok yang banyak berbicara, namun kehadirannya selalu menenangkan dan memberi rasa aman. Ia lebih memilih bekerja dalam diam, melayani tanpa menuntut perhatian, dan membantu dengan ketulusan. Keramahannya terpancar dalam sikap tulus, kesediaan mendengarkan, serta kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Imamatnya yang singkat menjadi kesaksian bahwa hidup tidak diukur dari panjangnya waktu, melainkan dari kepenuhan penyerahan diri.

Upacara Pemakaman RD. Marianus Hali Wuwur (RS. St. Damian Lewoleba, 27 Januari 2026)
RD. Marianus Hali Wuwur, imam muda yang baru tiga bulan menjalani imamatnya, telah mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan dan Gereja. Semoga Tuhan, yang telah memanggil dan mengutusnya, menganugerahkan kedamaian abadi, menerima seluruh hidup serta pelayanannya sebagai persembahan yang berkenan. Selamat jalan, Romo Marno. Beristirahatlah dalam damai Tuhan. (RD. Fil Du’a)












