DALAM KELUARGA SESEORANG PERTAMA KALI BELAJAR MENCINTAI: Misa Syukur Keluarga Mgr. Yohanes Hans Monteiro

Berita, Majalah, News146 Dilihat

LOHAYONG, 13 Februari 2026 – Suasana penuh syukur dan hangat menyelimuti rumah keluarga Mgr. Yohanes Hans Monteiro  (Mgr. Hans) di Lohayong, Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka, ketika Mgr. Hans, merayakan Misa Syukur Tahbisan Episkopal bersama keluarga besarnya. Perayaan ini menjadi momen istimewa, bukan saja bagi keluarga Monteiro, tetapi juga bagi umat Keuskupan Larantuka yang melihat secara nyata akar panggilan seorang gembala berasal dari keluarga.

Misa Syukur Keluarga Mgr. Yohanes Hans Monteiro – Lohayong, 13/02/2026.

Ekaristi syukur ini dihadiri oleh Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, para imam, biarawan-biarawati, serta umat beriman yang datang untuk berbagi sukacita. Hadir pula keluarga besar Mgr. Hans, terutama dari suku Monteiro dan suku Daton yang dengan penuh haru menyaksikan saudara mereka kini dipanggil menjadi uskup untuk menggembalakan umat Gereja lokal Keuskupan Larantuka. Perayaan liturgi semakin khidmat dan indah oleh lantunan lagu-lagu liturgi yang dibawakan para Frater Seminari Tinggi Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.

Dalam homilinya, Mgr. Hans mengajak semua yang hadir untuk melihat peristiwa tahbisan episkopal sebagai karya rahmat Allah. “Hari ini kita berkumpul di hadirat Tuhan untuk bersyukur atas rencana Allah yang telah memilih dari keluarga ini seorang gembala,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa panggilan bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan anugerah Allah yang tumbuh dan dipelihara dalam iman keluarga.

Misa Syukur Keluarga Mgr. Yohanes Hans Monteiro – Lohayong, 13/02/2026.

Menyinggung moto episkopalnya, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes (Efesus 4:4), Mgr. Hans menekankan makna kesatuan dalam Gereja. Satu tubuh, satu Roh, satu harapan. Ia mengingatkan bahwa Gereja bukanlah panggung bagi orang-orang hebat untuk mencari kemuliaan diri. Gereja adalah tubuh Kristus yang hidup, berakar dalam Roh Kudus. Kesatuan, tegasnya, dimulai dari keluarga. Dalam keluargalah seseorang pertama kali belajar mencintai, mengampuni, dan melayani. Dari keluarga pula benih panggilan itu tumbuh.

Mengacu pada Injil Markus tentang Yesus yang menyembuhkan dengan kasih, Mgr. Hans menegaskan bahwa Sabda Allah bukan hanya bagi mereka yang sakit secara fisik, tetapi bagi semua orang yang membutuhkan sentuhan penyembuhan Tuhan. “Yesus datang dan berkata: terbukalah. Terbukalah telinga kita,” katanya. Ia menyadari bahwa seorang uskup dipanggil untuk menjadi telinga bagi umat, sekaligus telinga yang peka terhadap kehendak Allah. Seorang gembala harus mampu mendengarkan jeritan, harapan, dan kegelisahan umatnya.

Karena itu, dalam perayaan syukur tersebut, ia mengajak seluruh umat untuk berdoa: “Tuhan, bukalah telinga dan mata gembala kami.” Doa itu bukan hanya bagi dirinya pribadi, tetapi menjadi permohonan bersama agar pelayanan episkopalnya sungguh berakar pada kepekaan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk mendengar.

Mgr. Hans juga menegaskan bahwa Gereja bukanlah bangunan batu semata, melainkan persekutuan hidup. Gereja adalah bangunan rohani yang tersusun dari orang-orang beriman. Seorang uskup tidak dapat berjalan sendiri. Ia membutuhkan imam, biarawan-biarawati, umat, serta keluarga yang terus menopang dalam doa dan kerja sama. Tahbisan episkopal, katanya, harus menjadi komitmen untuk menjaga persatuan dan menolak segala bentuk perpecahan. Pelayanan Gereja hanya akan berbuah jika dibangun di atas kasih.

Di akhir homilinya, Mgr. Hans menyampaikan keyakinannya bahwa Allah selalu setia dalam karya-Nya. “Allah melakukan segala sesuatu dengan baik. Allah yang memulai karya ini akan menyelesaikannya.” Kalimat itu menjadi peneguhan iman bahwa perjalanan panggilan ini berada dalam penyelenggaraan ilahi.

Misa Syukur Keluarga Mgr. Yohanes Hans Monteiro – Lohayong, 13/02/2026.

Misa syukuran keluarga di Lohayong bukan sekadar perayaan liturgis, tetapi juga peristiwa iman yang meneguhkan kembali makna keluarga sebagai ladang panggilan dan Gereja sebagai persekutuan kasih. Dalam suasana sederhana namun sarat makna itu, terpancar harapan bahwa pelayanan Mgr. Hans sebagai gembala akan senantiasa berakar pada kesatuan, kasih, dan harapan yang satu dalam Kristus. (@sly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *