Anselmus Dore Woho Atasoge – Komsos Panitia Tahbisan Uskup Larantuka
Di bawah langit biru bumi Lamaholot, suasana haru yang merayap lembut berpadu dengan sukacita yang meluap saat Mgr. Fransiskus Kopong Kung menyampaikan kata sambutan yang sarat makna dalam momen tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Dalam momen yang sakral itu, beliau tidak sekedar melepas tongkat penggembalaan kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro, melainkan merayakan sebuah estafet iman yang lahir dari ketulusan hati. Dengan nada yang teduh dan menyentuh, beliau menegaskan bahwa peristiwa tahbisan ini merupakan sebuah bentangan karya agung Roh Kudus yang sedang merajut babak baru bagi umat Allah di tanah yang diberkati ini.

Beliau mengajak seluruh umat dari para imam hingga kaum muda untuk melangkah dengan jemari yang saling terpaut, menyongsong fajar kepemimpinan baru dalam semangat persaudaraan “Lamaholot” yang melampaui sekat-sekat perbedaan. Pesan beliau menjadi penyejuk, mengingatkan bahwa meskipun nahkoda berganti, Gereja tetaplah satu kawanan yang berlayar di bawah bimbingan Kristus sebagai Gembala Utama. Kini, dengan rasa lega dan bangga, beliau mewariskan harapan agar keuskupan ini terus bertumbuh menjadi komunitas yang mandiri dan misioner, bagaikan kapal yang tetap kokoh berlayar meski badai menerjang, karena memiliki iman sebagai sauh dan kasih sebagai kompas penuntun arah.
“Bukan saya yang menahbiskan, tapi Roh Kuduslah yang bekerja,” ujar Mgr. Fransiskus dengan rendah hati. Beliau menitipkan tanggung jawab penggembalaan ini kepada Mgr. Hans untuk dipanggul dengan penuh kasih. Beliau meyakini bahwa di bawah tuntunan motto tahbisan Mgr. Hans, Keuskupan Larantuka akan melangkah menuju masa depan yang dicita-citakan oleh Bunda Maria, Tahta Suci, dan seluruh umat.
Kepada seluruh umat, imam, biarawan-biarawati, tokoh awam, hingga kaum muda, Mgr. Fransiskus menyampaikan seruan penuh semangat: “Mari kita gandeng tangan, jalan bersama dengan Uskup baru!” Beliau bermimpi melihat umat Allah di Keuskupan Larantuka tumbuh menjadi pribadi yang semakin dewasa, mandiri, dan misioner, menjadi satu kawanan di bawah satu gembala utama, yakni Kristus sendiri.
Salah satu poin paling berkesan dalam sambutannya adalah apresiasi mendalam bagi indahnya keberagaman di NTT. Di hadapan para pejabat pemerintah, anggota DPR, serta tokoh lintas agama (Islam, Protestan, Hindu, dan Budha), beliau menekankan bahwa toleransi di tanah Lamaholot tidak terbatas pada slogan-slogan. “Bagi kita, toleransi bukan sekadar bunyi di luar. Yang terpenting adalah hidup bersama dalam nuansa kelamaholotan. Jika kita sudah menyatu dalam keluarga besar Lamaholot yang didasari iman masing-masing, itulah persaudaraan yang sejati,” ungkapnya disambut hangat oleh para hadirin.

Menutup masa pengabdiannya selama 24 tahun di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Fransiskus menyampaikan pamit dengan rasa bangga dan lega saat kini resmi menyandang status Uskup Emeritus. Beliau menitipkan sebuah harapan puitis bagi KWI: “Di tengah gelora dan badai yang melanda Gereja Indonesia, jadilah Kompas yang tetap memberi arah. Di saat awan gelap dan malam kelam, jadilah sauh yang dilabuhkan hingga dasar samudera. Meski kapal terguncang, biarlah ia tidak tenggelam.”
Momen ini menjadi sebuah simfoni sejarah yang memikat bagi Keuskupan Larantuka, di mana senja pengabdian Mgr. Fransiskus yang berakhir manis menyatu dengan rekahan fajar baru yang membawa harapan segar bersama Mgr. Hans. Di bumi Lamaholot, estafet kepemimpinan ini merupakan sebuah transisi spiritual yang anggun seperti sebuah kapal yang tetap tangguh mengarungi samudera, meninggalkan jejak ketulusan masa lalu untuk berlayar menuju masa depan yang lebih cerah dan misioner.***










