Oleh: Benediktus Boki Hera
Selamat datang di keuskupan tua. Tua dalam usia, tua dalam cerita, dan sering tua juga dalam stamina umatnya-namun tetap keras kepala dalam iman. Keuskupan ini seperti Alkitab lusuh: sampulnya pudar, halamannya menguning, tetapi isinya tetap bernyawa-asal masih mau dibuka, bukan sekadar dipajang. Sebagai umat awam-yang imannya setia tapi sering terseok, yang rajin misa tapi kadang lebih rajin mengeluh-izinkan saya menyodorkan secangkir realitas. Bukan 𝘄𝗶𝗲𝗻𝗲𝗿 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴𝗲 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘄𝗶𝗻𝗮 𝗮𝘂𝘀𝘁𝗿𝗶𝗮, melainkan 𝗸𝗼𝗽𝗶 𝗵𝗶𝘁𝗮𝗺 𝗟𝗮𝗺𝗮𝗵𝗼𝗹𝗼𝘁: pahit, hangat, dan jujur serta terasa berat di dada. 𝗕𝗮𝗵𝘁𝗲𝗿𝗮 𝘁𝘂𝗮 𝗶𝗻𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗮𝗶𝗸-𝗯𝗮𝗶𝗸 𝘀𝗮𝗷𝗮, 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗮𝗹𝘂 𝘀𝗼𝗽𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗶𝗻𝘆𝗮. 𝗔𝗻𝗮𝗸-𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗺𝘂𝗱𝗮𝗻𝘆𝗮 kini lebih hafal algoritma media sosial daripada doa Rosario. Lebih lincah mengikuti tren TikTok daripada irama liturgi. Gerak jempol selalu tepat sasaran, sementara tanda salib kadang masih tertukar urutan.
𝗜𝗯𝘂-𝗶𝗯𝘂 𝗺𝘂𝗱𝗮 kini fasih membicarakan urusan konflik rumah tangga di media sosial, seakan lupa pada teladan 𝗕𝘂𝗻𝗱𝗮 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗴𝗮𝗹𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗵𝗮𝘁𝗶𝗻𝘆𝗮. 𝗔𝗻𝗮𝗸-𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗺𝘂𝗱𝗮 tak lagi canggung membahas hal-hal tabu di ruang publik digital, sementara kesetiaan-yang dulu dijaga dalam diam dan doa-kini terasa kuno dan berdebu. 𝗗𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗮𝗽𝗮𝗸-ah, para bapak selalu punya panggung sendiri. Mereka jauh lebih mesra dengan mic karaoke daripada buku lagu madah bakti dan puji syukur di gereja. Lebih hafal nada lagu patah hati daripada bait Ordinarium misa dolo-dolo.
𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗞𝗮𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸 pun pelan-pelan berubah: dari “𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮” menjadi 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗻𝘆𝗶, 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵 𝗹𝗮𝘆𝗮𝗿, 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗶𝘀𝗸𝗶𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗰𝗮𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻. 𝗣𝗲𝗿𝗻𝗶𝗸𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗞𝗮𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸 tetap disebut sakramen seumur hidup, namun sering dijalani seperti langganan-kalau terasa berat, tinggal berhenti. Badai sedikit, lompat. Masalah datang, menyerah. Bahtera bocor, bukan ditambal, melainkan ditinggal. Dan tibalah kita pada misteri iman yang paling terasa di perut: 𝗲𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗞𝗮𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸. Kami 𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗺𝘂𝗱𝗮 sedang oleng. Bukan karena malas bekerja, tetapi karena terlalu 𝗿𝗮𝗷𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝗿𝗮 𝗴𝗲𝗻𝗴𝘀𝗶. Pesta Komuni Pertama harus meriah, kalau tidak, malu sama tetangga. Pernikahan harus megah, kalau sederhana dianggap tidak bermartabat. Kematian bahkan kadang lebih menakutkan dari maut itu sendiri. Yang meninggal sudah damai, kami nyang hidup diwarisi utang demi “ritual yang pantas”. Kami sadar Gereja tidak mengatur kebiasaan buruk yang bersembunyi di balik wibawa adat. tetapi kami berharap Gereja berani bersuara: 𝗶𝗺𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀𝗻𝘆𝗮 𝘁𝘂𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗺𝗶 𝗽𝗲𝘀𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗸𝗮𝘂 𝘀𝗲𝘀𝗮𝗮𝘁.
Dan izinkan saya jujur, Bapa Uskup. Tadi, di tengah hiruk-pikuk rombongan yang mengantar Bapa Uskup berkeliling Kota Larantuka, 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗶𝘀. Ya, air mata seorang laki-laki. Bukan karena lemah, melainkan karena terlalu lama berharap. Air mata seorang umat yang masih setia kepada Gereja, meski sering kecewa pada penghuninya. Air mata seorang ayah dari 𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗺𝘂𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗮𝗺-𝗱𝗶𝗮𝗺 𝗺𝗲𝗻𝗶𝘁𝗶𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗮𝗻𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮-𝗮𝗴𝗮𝗿 𝗸𝗲𝗹𝗮𝗸 𝗮𝗻𝗮𝗸-𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗸𝗮𝗺𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗰𝗲𝗿𝗱𝗮𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵.
Di balik semuanya ini, ada cinta yang tidak kecil. Ada harapan yang tidak mati. Kami percaya Gereja yang berani bercermin dan mengakui luka-lukanya adalah Gereja yang masih hidup. Seperti kata Gereja sendiri dengan jujur dan berani: “𝘒𝘦𝘨𝘦𝘮𝘣𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯, 𝘥𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘶𝘮 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢, 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘮𝘣𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯, 𝘥𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 𝘫𝘶𝘨𝘢.” (𝘎𝘢𝘶𝘥𝘪𝘶𝘮 𝘦𝘵 𝘚𝘱𝘦𝘴, 𝘢𝘳𝘵. 1)
Selamat datang, Bapa Uskup di keuskupan tua ini, di rumahmu sendiri yang umatnya sering salah, sering lelah, sering tergoda, namun masih bertahan. Dan saya-kami-akan terus mendoakanmu dalam tugas kegembalaanmu. 𝗔𝗴𝗮𝗿 𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂 𝗸𝘂𝗮𝘁 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗿𝗶𝘂𝗵, 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗮𝗽𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗻𝘆𝗮. 𝗔𝗺𝗶𝗻.***







Proficiat.u.semua yg terlibat dlm persiapan tabisan àkbar ini.doa kami dari jauh.moga Ema Renha selalu menjaga…..melindungi…dan menyertai semua kita.khususnya u bapa uskup yg baru.proficiat u panitia yg telah bekerja keras demi suksesnya acara ini.