SUKACITA KEUSKUPAN LARANTUKA: Mgr. Yohanes Hans Monteiro Ditahbiskan Menjadi Uskup Baru

Berita, Majalah, News403 Dilihat

Laporan Anselmus DW Atasoge – Komsos Panitia Tahbisan Uskup

Hari ini, Rabu (11/2/2026), Kota Reinha Larantuka seolah berselimutkan kabut doa yang sakral dan penuh haru saat lonceng katedral berdenting menyambut fajar baru. Di bawah kubah Gereja Katedral Reinha Rosari yang megah, Monsinyur Yohanes Hans Monteiro resmi mengenakan cincin dan mitra sebagai Uskup Larantuka, mengukuhkan janji setianya dalam sebuah perayaan Ekaristi yang menggetarkan sanubari ribuan umat di tanah Flores Timur.

Foto: Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro Menjadi Uskup Larantuka (11/02/2026)

Momen penahbisan ini bagai sebuah fajar yang menyingsing bagi kepemimpinan Gereja di wilayah “Ribu Ratu” Lamaholot. Mgr. Hans Monteiro kini melanjutkan estafet kasih dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung. Di bawah naungan langit Ile Mandiri yang khidmat, sebuah narasi baru bagi Gereja Lokal Keuskupan Larantuka baru saja dituliskan. Dalam upacara penahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Rabu (11/2/2026), Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menyampaikan khotbah yang tidak hanya menyentuh aspek rohani, tetapi juga memotret realitas sosial dan budaya masyarakat Lamaholot dengan begitu puitis.

Foto: Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro Menjadi Uskup Larantuka (11/02/2026)

Kilas Balik 22 Tahun: Sang Komentator yang Kini Menjadi Gembala

Mgr. Budi Kleden membuka khotbahnya dengan sebuah catatan sejarah yang menarik. Beliau mengenang peristiwa 22 tahun silam, saat Mgr. Fransiskus Kopong Kung memulai pelayanannya. Kala itu, sosok yang berdiri di mimbar sebagai komentator adalah Romo Hans Monteiro muda.

“Tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi dengan komentator kita hari ini, 22 tahun kemudian,” ujar Mgr. Budi, disambut senyum haru umat. Jika Mgr. Frans Kopong Kung memimpin dengan keterbukaan batin ala Bunda Maria untuk merawat kesatuan di tengah umat (“Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”, dan “Semoga mereka semua bersatu supaya dunia percaya”), kini Mgr. Hans datang dengan satu motto namun bermakna tiga dimensi: “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes.”

Tiga Pilar Kesatuan: Menyentuh Setiap Sudut Kehidupan

Mgr. Budi membedah moto Unum, Unus, Una sebagai sebuah pelukan semesta yang melintasi sekat gender, golongan, hingga sudut-sudut kehidupan yang paling sunyi. Menurutnya, penggunaan tiga genus bahasa tersebut melampaui urusan tata bahasa. Ungkapan Latin itu menghadirkan simbol bahwa misi Mgr. Hans adalah misi yang utuh, sebuah panggilan untuk menyentuh setiap napas kehidupan di bumi Lamaholot tanpa ada satu pun yang tertinggal di luar lingkaran kasih.

Dalam pilar ‘Unum Corpus’, ditegaskan bahwa menjadi satu tubuh bukanlah tentang memaksakan keseragaman, melainkan merayakan keberagaman peran yang saling menguatkan. Kesatuan sejati lahir saat Gereja berani merendahkan hati untuk melihat dunia dari mata mereka yang menjadi korban, merangkul jiwa-jiwa yang terhempas dalam kemiskinan empati, dan menemukan keberanian untuk saling mengampuni di tengah retakan-retakan ketersinggungan manusiawi.

Sementara itu, ‘Unus Spiritus’ hadir sebagai api kenabian yang membakar dinding “penjara ingat diri” dan kenyamanan semu. Gereja dipanggil untuk turun ke kehidupan nyata, menjadi perisai bagi petani dan nelayan dari jeratan tengkulak, melawan lintah darat digital yang mengikis martabat, serta bersuara lantang menghentikan perdagangan manusia dan perusakan alam. Bagi Mgr. Budi, seorang rohaniwan justru wajib berbicara tentang perkara duniawi, sebab kemiskinan yang merogoh perut seringkali menjadi awal dari keterpurukan batin yang paling dalam.

Akhirnya, ‘Una Spes’ ditenun menjadi lentera harapan yang tak kunjung padam di tengah dunia yang kian keras. Harapan itu tidak abstrak. Ia nyata dalam mata awas para ‘Lamafa’ yang menantang gelombang Samudera Sawu, dalam jemari lentik gadis Adonara yang memintal benang di lereng Ile Boleng, serta dalam doa tulus petani Solor dan rindu tak bertepi seorang ibu di kaki Ile Mandiri. Di bawah pimpinan gembala baru, harapan-harapan kecil ini disatukan menjadi sebuah kekuatan besar untuk terus melangkah menuju rumah kasih yang satu.

Foto: Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro Menjadi Uskup Larantuka (11/02/2026)

“Bale Nagi”: Pulang untuk Melayani

Momen paling menyentuh adalah ketika Mgr. Budi Kleden menyapa Mgr. Hans dengan sebutan hangat, “No” (sapaan akrab untuk laki-laki di Larantuka).

“No bale nagi (Pulang kampung), bukan karena mimpimu atau sekadar rindu makan jagung titi. No bale nagi sebab itulah perutusanmu. Supaya bersama kita semua, melangkah dalam rangkulan kasih Tuan Ma, mewartakan Tuan Ana.”

Mgr. Budi menutup khotbahnya dengan menegaskan bahwa segala perjuangan menuju kesatuan ini bermuara pada satu sosok: ‘Unus Christus’, Kristus yang satu. Dialah gembala utama yang akan menghantar seluruh umat untuk akhirnya “pulang ke rumah Tuhan” yang penuh kasih.

Foto: Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro Menjadi Uskup Larantuka (11/02/2026)

Perayaan bersejarah ini sejatinya tidak berhenti sebagai sebuah upacara peralihan tongkat kepemimpinan di Keuskupan Larantuka, melainkan sebuah pembaharuan janji suci yang dilarungkan ke dalam palung hati setiap umat. Bahwa di tanah penuh berkat ini, iman akan tetap berdiri sekukuh tegakan Gunung Mandiri dan mengalir seluas samudera yang memeluk pulau-pulau, menjadi sauh yang menjaga langkah mereka agar tetap setia pada tradisi sembari terus berlayar menuju ufuk harapan yang baru.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *