NATAL BERSAMA DEKENAT LARANTUKA: Makna Tanda Kehadiran Allah dalam Hidup dan Pelayanan

Berita, Majalah, News863 Dilihat

Larantuka – Perayaan Natal bersama Dekenat Larantuka pada (29/12/2025) menjadi momen syukur dan refleksi iman bagi para imam, biarawan, dan biarawati yang berkarya di wilayah Dekenat ini. Perayaan ini diawali dengan misa bersama yang berlangsung di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka pada pukul 17.00 WITA, dipimpin oleh Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung. Hadir dalam perayaan ini para pastor, frater, suster, dan bruder yang melayani umat di berbagai paroki dalam wilayah Dekenat Larantuka. Selain sebagai perayaan liturgis, perjumpaan ini juga menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas pelayanan dan bersama-sama menimbah kembali makna Natal dalam terang panggilan dan perutusan di medan pastoral.

Perayaan Natal Bersama Dekenat Larantuka pada (29/12/2025)

Bertolak dari bacaan Hari ke-5 Oktaf Natal, yakni 1 Yohanes 2:3–11 dan Lukas 2:22–35, Mgr. Fransiskus dalam homilinya mengajak para pelayan Gereja untuk peka membaca tanda-tanda kehadiran Allah dalam hidup dan pelayanan. Ia menegaskan bahwa manusia dapat mengenal Allah bukan pertama-tama karena usaha manusia, melainkan karena Allah lebih dahulu mengenal dan mengasihi manusia.
“Inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah,” demikian kutipan dari Surat Yohanes yang menjadi dasar refleksi homili. Mgr. Fransiskus menekankan bahwa kehadiran Allah tidak bersifat abstrak, tetapi nyata dalam sejarah, dalam peristiwa kelahiran Yesus, dan dalam perjalanan hidup umat beriman. Kasih Allah itulah yang memberi kekuatan bagi para pelayan Gereja untuk tetap setia melayani, bahkan ketika medan pelayanan penuh tantangan dan kesulitan.

Perayaan Natal Bersama Dekenat Larantuka pada (29/12/2025)

Mgr. Fransiskus menyoroti tanda yang disebutkan dalam Kabar Gembira Natal: seorang bayi yang dibungkus kain lampin dan dibaringkan dalam palungan. Tanda ini, menurutnya, mengungkapkan cara Allah hadir bukan dalam kemegahan, melainkan dalam kerendahan, kelemahlembutan, dan kemiskinan.
Bayi Yesus yang terbaring di palungan menjadi simbol Allah yang rela merendahkan diri agar dekat dengan manusia. Karena itu, perayaan Natal juga menjadi undangan bagi para pelayan Gereja untuk menata kembali gaya hidup dan pelayanan: menjadi kecil, sederhana, dan dekat dengan umat, terutama yang kecil, lemah, dan tersisih. Bagi para religius, semangat ini secara konkret terwujud dalam kaul kemiskinan. Hidup miskin bukan sekadar kekurangan materi, tetapi sikap batin yang membuka diri sepenuhnya kepada Allah dan sesama.
Selain tanda kegembiraan, Injil juga menghadirkan tanda yang mengandung penderitaan, yakni nubuat Simeon bahwa Anak itu akan menjadi tanda yang menimbulkan pertentangan dan bahwa sebilah pedang akan menembus hati Maria. Mgr. Fransiskus menafsirkan hal ini sebagai penegasan bahwa kehadiran Allah tidak menghapus salib dari hidup manusia, melainkan senantiasa menyertainya. Salib menjadi bagian dari perutusan Gereja. Dalam kesulitan, konflik, kelelahan, dan pengorbanan, Allah tetap hadir dan bekerja. Di situlah para pelayan dipanggil untuk setia dan bertekun.
Mgr. Fransiskus juga menyampaikan apresiasi atas solidaritas spontan umat dan para pelayan Gereja terhadap para korban bencana alam, baik bencana erupsi gunung api di wilayah Flores maupun bencana banjir bandang di Sumatra, sebagai tanda nyata kehadiran Allah melalui kasih persaudaraan. Ia mengakhiri homilinya dengan ajakan untuk terus memelihara semangat kebersamaan dalam pelayanan di tengah umat Allah.

Perayaan Natal Bersama Dekenat Larantuka pada (29/12/2025)

Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan resepsi sederhana sebagai ungkapan persaudaraan dan syukur satu keluarga besar kaum berjubah yang berkarya di Dekenat Larantuka. Sr. Yasinta, DST, mewakili Forum Komunikasi Kongregasi Religius (FKKR) Dekenat Larantuka, dalam sambutannya menyampaikan ucapan Selamat Natal dan mengajak semua anggota religius untuk terus memperkuat kerja sama dan semangat kebersamaan dalam pelayanan pastoral.
Deken Larantuka, RD. Adeodatus Hendrikus Leni, menyampaikan apresiasi atas kerja sama para imam, biarawan dan biarawati yang telah berkarya dan melayani umat Allah di Dekenat Larantuka. Ia juga membagikan pengalaman Natal bersama para penyintas erupsi Gunung Lewotobi yang meski dalam keterbatasan, tetap merayakan Natal dengan sukacita dan persiapan yang baik. Deken Larantuka mengajak para imam, biarawan dan biarawati untuk membangun kembali kolegialitas, memulihkan komunikasi, dan memperkuat kebersamaan mulai dari komunitas masing-masing. Ia juga mengingatkan bahwa Natal tahun ini menjadi istimewa karena dirayakan bersama Mgr. Fransiskus yang akan mengakhiri tugas kegembalaannya di Keuskupan Larantuka, serta mengajak para imam dan kaum religius untuk terlibat aktif dalam persiapan tahbisan uskup baru, Mgr. Yohanes Hans Monteiro pada 11 Pebruari 2026 mendatang.

Perayaan Natal Bersama Dekenat Larantuka pada (29/12/2025)

Perayaan Natal bersama di Dekenat ini sekali lagi menegaskan bahwa Allah sungguh hadir di tengah umat-Nya: hadir dalam bayi di palungan, hadir dalam salib, hadir dalam solidaritas, dan hadir dalam kebersamaan para pelayan yang setia. Itulah makna Natal yang terus dihidupi dan diwartakan oleh Gereja termasuk di Dekenat Larantuka. (@sly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *