LEWOLEBA, Komsos Larantuka – Dalam suasana persaudaraan Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menggelar pertemuan bersama para tokoh umat wilayah Atadei untuk menyikapi rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geotermal di Kabupaten Lembata. Pertemuan ini berlangsung di Aula Paroki Lewoleba pada Selasa, 17 Maret 2026, dan menjadi ruang dialog penting antara Gereja dan masyarakat dalam merespons isu yang tengah berkembang.
Sejak awal pertemuan, Bapa Uskup mengajak seluruh peserta untuk melihat persoalan pembangunan dengan hati yang jernih dan pikiran yang terbuka. Ia menegaskan bahwa setiap upaya pembangunan harus berorientasi pada masa depan manusia, kemajuan bersama, dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Menurutnya, Gereja tidak pernah menolak pembangunan, tetapi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar membawa kebaikan, bukan justru menghadirkan persoalan baru di tengah kehidupan umat.
Dalam arahannya, Uskup secara tegas menyampaikan sikap Gereja yang menolak rencana pembangunan geotermal di wilayah Flores-Lembata. Penolakan ini juga mencakup Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang menetapkan wilayah tersebut sebagai kepulauan geotermal. Ia menilai keputusan tersebut diambil secara sepihak tanpa melibatkan masyarakat secara memadai, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan umat.
Lebih lanjut, Uskup menegaskan bahwa Gereja melihat adanya potensi dampak negatif yang besar dari proyek tersebut, terutama berkaitan dengan lingkungan hidup dan keberlangsungan hidup masyarakat lokal. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh umat untuk bersama-sama memperjuangkan suara Gereja sebagai bentuk tanggung jawab iman dalam menjaga ciptaan dan kehidupan.
Kepada para imam dan pelayan pastoral, Uskup memberikan penekanan khusus agar tetap mengedepankan pendekatan yang bijaksana dalam mendampingi umat. Ia mengingatkan bahwa peran Gereja bukan untuk memprovokasi, melainkan memberikan pemahaman yang benar, menghadirkan solusi, dan membangun komunikasi yang sehat. Kehadiran Gereja, menurutnya, harus menjadi tanda harapan yang membawa ketenangan dan kejelasan di tengah situasi yang sensitif.
Dalam konteks perjuangan yang lebih luas, Uskup juga mengungkapkan bahwa para uskup Gerejawi Ende akan membentuk tim advokasi untuk mengambil langkah sebagai upaya mencari keadilan melalui jalur hukum atas kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat lokal.
Meski demikian, Uskup tetap mengajak semua pihak untuk menjaga semangat persatuan. Ia mengingatkan kembali moto tahbisan episkopalnya, “Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan,” yang dalam bahasa Lamaholot dikenal sebagai “Taan Toou.” Melalui semangat ini, ia mengajak umat untuk tetap berjalan bersama, menghargai upaya pemerintah, dan membuka ruang dialog demi mencapai kesejahteraan bersama, khususnya bagi masyarakat Atadei.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan di tengah masyarakat. Isu geotermal, menurutnya, tidak boleh menjadi sumber perpecahan, melainkan harus dihadapi dengan semangat persaudaraan dan kebersamaan. Umat diharapkan mampu menahan diri dan tidak terjebak dalam konflik yang dapat merusak tatanan sosial.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, direncanakan pembentukan tim pemantau yang akan bertugas memberikan sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat mengenai dampak pembangunan geotermal, baik dari sisi positif maupun negatif. Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengambil keputusan secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh Gereja dan masyarakat, antara lain Deken Lembata RD. Philipus Sinyo da Gomez, Pastor Paroki Lerek RD. Kristo Soge, Pastor Paroki Kalikasa RD. Emanuel Temaluru, Pastor Paroki Lewoleba RD. Blasius Kleden, Kepala Desa Atakore Yoakin Wato, Kepala Desa Nubahaeraka Vinsensius Nuba, serta perwakilan Dewan Pastoral Paroki Lerek, Dewan Pastoral Paroki Kalikasa dan Dewan Stasi Watuwawer dan Waiwejak.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro bersama para tokoh umat (17/03/2026)
Kegiatan diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Pastor Paroki Lerek dan diakhiri dengan berkat perutusan dari Bapa Uskup. Pertemuan ini menjadi tanda nyata kehadiran Gereja yang terus berjalan bersama umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, dengan tetap menjunjung tinggi nilai dialog, persatuan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. (RD. Kristo Soge)
