MENGENANG DUA KEKASIH, ROMO HEAN DAN ROMO MARNO: Antara Emaus dan Terang Hidup, Kesetiaan Sampai Garis Akhir dan Estafet Jubah Putih

Majalah, News, Renungan1474 Dilihat

Oleh: Anselmus DW Atasoge

Kisah dua imam ini adalah sebuah misteri ilahi yang melintasi rentang waktu hampir dua dekade, menyatukan dua takdir dalam satu pengabdian yang singkat namun berujung pada keabadian yang sama.

Misteri pertama tergores tujuh belas tahun yang silam, tepatnya pada tahun 2009, ketika RD. Hendrikus Hean Atasoge atau Romo Hean dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Hidup. Meski baru menapaki jalan imamat selama tujuh bulan, ia telah memberikan seluruh terang dan hidupnya sesuai dengan pesan yang ia tinggalkan bahwa dalam TUHANLAH SUMBER SEGALA CAHAYA MANUSIA. Dunia sempat mengeringkan air matanya, namun pada 25 Januari 2026, air mata kembali membasahi bumi dan ‘kerinduan akan ziarah imamat’ kembali pupus dalam misteri kepergiaan RD. Marianus Hali Wuwur atau Romo Marno yang menyusul jejak ‘sang pendahulu’ hanya dalam waktu tiga bulan setelah hari tahbisannya yang penuh syukur.

Kepergian mereka yang seolah “tergesa-gesa” ini menciptakan sebuah dialog batin bagi umat yang ditinggalkan; antara Romo Hean yang telah lama menanti di keabadian dan Romo Marno yang baru saja menyelesaikan ‘liturgi singkatnya’ di dunia. Romo Marno, melalui pesan “Apakah Engkau Orang Asing?”, seolah-olah menggenapi kesunyian yang ditinggalkan Romo Hean belasan tahun silam, mengingatkan kita bahwa setiap imam adalah PEZIARAH YANG HANYA MAMPIR SEBENTAR UNTUK MEMBERKATI, LALU BERPULANG.

Meski terpisah oleh jurang waktu tujuh belas tahun, keduanya kini bersatu dalam JUBAH PUTIH YANG TAK AKAN PERNAH LUSUH OLEH USIA. Mereka tidak lagi dicatat dalam derai ‘statistik duka’. Kini, mereka akan dikenang sebagai ‘martir cinta’ yang membuktikan bahwa KUALITAS SEBUAH PERSEMBAHAN TIDAK PERNAH DIUKUR DARI BERAPA LAMA MEREKA BERDIRI DI ALTAR SUCI PENUH HIKMAD, melainkan dari SEBERAPA TOTAL MEREKA MENYERAHKAN NYAWA SEBELUM FAJAR PELAYANAN MEREKA SEMPAT MEREDUP.

Kematian memilukan namun suci ini semakin menemukan kedalamannya saat kita merenungkan refleksi teolog Karl Rahner, yang memandang bahwa SEORANG IMAM BUKANLAH SESEORANG YANG MEMILIKI SEGALA JAWABAN, melainkan SOSOK YANG HIDUPNYA SENDIRI MENJADI SEBUAH PERTANYAAN YANG HANYA BISA DIJAWAB OLEH TUHAN.

Kepergian Romo Hean dan Romo Marno menegaskan bahwa imamat mereka bukanlah tentang ‘karier panjang di dunia’, melainkan keberanian untuk menjadi “KURBAN YANG HANCUR” demi sesama. Seperti yang dikatakan Rahner, kematian seorang imam muda adalah momen di mana “LITURGI BATIN” mencapai puncaknya. Mereka tidak lagi mempersembahkan roti dan anggur, melainkan menyerahkan diri mereka sendiri secara utuh sebagai persembahan yang murni di hadapan Allah.

Dari sudut pandang filosofis, kita diingatkan oleh pemikiran Martin Heidegger tentang manusia sebagai SEIN-ZUM-TODE atau “ada-menuju-kematian,” di mana autentisitas hidup justru ditemukan saat seseorang berani menghadapi batas akhirnya dengan penuh kesadaran.

Romo Hean dan Romo Marno tidak menjalani hidup mereka dengan menunda-nunda pengabdian, melainkan menghidupi setiap detik jubah mereka seolah-olah itu adalah saat terakhir. Bagi Heidegger, kematian bukanlah akhir yang memutus makna, melainkan PUNCAK YANG MENGUMPULKAN SELURUH KEBERADAAN MANUSIA MENJADI SATU KESATUAN YANG UTUH. Walau usia imamat mereka jika digabungkan bahkan tidak mencapai satu tahun, mereka telah mencapai derajat autentisitas yang tinggi. MEREKA TIDAK MEMBUANG WAKTU UNTUK MENJADI ASING BAGI PANGGILAN MEREKA SENDIRI.

Mungkin di surga sana, Romo Hean yang sudah lebih dahulu tiba kini menyapa Romo Marno sebagai sesama “imam muda selamanya,” menutup lembaran ziarah duniawi dengan senyum yang tak lagi mengenal tangis. Kematian mereka yang prematur bagi logika manusia sebenarnya adalah sebuah kelahiran yang sempurna di mata Tuhan, meninggalkan warisan iman yang akan terus menyala dalam hati umat dari generasi ke generasi.

Estafet pengabdian ini kini telah tuntas. Dari altar tahun 2009 ke altar tahun 2026, mereka telah membuktikan bahwa MESKIPUN HIDUP HANYA SEKEJAP, CINTA YANG DIBERIKAN DALAM NAMA TUHAN AKAN BERGEMA SELAMANYA DALAM CAKRAWALA PENGHARAPAN YANG BESAR.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *