RD. Bernardus Belawa Wara
Renungan RD. Bernardus Belawa Wara (Dibawakan saat Rekoleksi Para Imam Dekenat Larantuka,10 Maret 2026)
Dalam bulan Maret ini, kita sedang berjalan bersama dalam iman menekuni ziarah tobat menuju perayaan misteri agung sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Di bulan yang sama ini, pusat perhatian Gereja terarah kepada figure St. Yusuf, mempelai yang setia, pelindung keluarga kudus Nasareth, pelindung Gereja semesta. Dalam sejarah keselamatan, Santo Yusuf tampil sebagai sosok yang sederhana, diam, namun penuh daya rohani. Ia bukan seorang tokoh yang banyak berbicara dalam Kitab Suci, tetapi tindakannya berbicara lebih keras daripada kata-kata. Yusuf adalah seorang pekerja, seorang ayah, seorang suami, dan seorang hamba Allah yang setia. Keteladanannya menjadi sumber inspirasi bagi Gereja sepanjang zaman, terutama dalam masa Prapaskah ini, ketika kita, para imam dan calon imam sedang berjalan bersama dalam iman menuju pertobatan dan kebangkitan.

Para Imam Dekenat Larantuka saat Misa Bersama di Gereja Katedral Larantuka, 11/03/2026
Ketika kita menatap figur Santo Yusuf, kita melihat seorang manusia biasa yang dipanggil untuk tugas luar biasa. Ia tidak memiliki kuasa politik, tidak memiliki kekayaan besar, tidak memiliki pengaruh sosial yang luas. Namun ia memiliki hati yang taat, telinga yang peka terhadap suara Allah, dan tangan yang siap bekerja demi keluarga kudus. Dalam keheningannya, Yusuf mengajarkan bahwa iman sejati tidak selalu ditandai dengan kata-kata indah, melainkan dengan tindakan nyata yang lahir dari ketaatan.
Penginjil Matius menyebut Yusuf sebagai “orang benar” (Mat 1:19). Sebutan ini bukan sekadar menunjuk pada moralitas pribadi, melainkan pada kesetiaan Yusuf terhadap hukum Allah dan keterbukaannya pada kehendak Allah. Ketika menghadapi misteri kehamilan Maria, Yusuf memilih jalan kasih: tidak mencemarkan nama Maria, melainkan mencari cara yang penuh belas kasih. Dalam diamnya, Yusuf menunjukkan kebijaksanaan yang lahir dari doa. Ia tidak terburu-buru mengambil keputusan, melainkan menimbang dalam terang iman.
Yusuf menerima tugas besar: menjadi ayah bagi Yesus, Putra Allah. Ia menuntun Yesus dalam kehidupan sehari-hari, mengajarkan keterampilan, nilai kerja keras, dan iman Yahudi. Yusuf adalah teladan ayah yang hadir, meski tidak banyak bicara. Kehadirannya memberi rasa aman bagi Maria dan Yesus. Ia mengajarkan bahwa kehadiran seorang ayah bukan terutama dalam kata-kata, melainkan dalam kesetiaan, kerja keras, dan kasih yang nyata.

Para Imam Dekenat Larantuka saat Misa Bersama di Gereja Katedral Larantuka, 11/03/2026
Sebagai tukang kayu, Yusuf hidup dari kerja tangan. Ia mengajarkan bahwa pekerjaan bukan sekadar mencari nafkah, melainkan partisipasi dalam karya penciptaan Allah. Yusuf adalah pelindung para pekerja, teladan bagi mereka yang bekerja dengan jujur, sederhana, dan penuh tanggung jawab. Dalam dunia yang sering mengukur nilai manusia dari jabatan dan kekayaan, Yusuf mengingatkan bahwa kerja sederhana pun memiliki nilai rohani yang mendalam.
Masa 40 hari Prapaskah adalah masa yang mengajak kita semua bersama umat untuk bertobat, berdoa, berpuasa, dan beramal kasih. Ziarah iman ini bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan batin menuju pembaruan hidup. Santo Yusuf sedang menjadi cermin bagi perjalanan ini: ia berjalan dalam iman, meski jalannya penuh misteri. Ia tidak selalu mengerti rencana Allah, tetapi ia percaya dan taat.
Ziarah iman menuntut ketaatan pada kehendak Allah. Dan Yusuf menunjukkan ketaatan total itu sekuat mampu: menerima Maria sebagai istrinya, membawa Yesus ke Mesir, kembali ke Nazaret sesuai petunjuk malaikat. Ketaatan ini bukan pasif, melainkan aktif: Yusuf mendengar, merenung, lalu bertindak. Ia tidak menunda, tidak berdebat, tidak mencari alasan. Ia segera melaksanakan kehendak Allah.
Merujuk pada pribadi St. Yusuf, Masa Prapaskah semestinya mengajak kita semua bersama umat masuk dalam keheningan doa. Yusuf adalah teladan keheningan yang produktif. Ia tidak banyak bicara, tetapi dalam diamnya, ia mendengarkan Allah. Keheningan Yusuf mengajarkan bahwa doa bukan sekadar kata-kata, melainkan sikap hati yang terbuka pada misteri. Dalam dunia yang bising, keheningan Yusuf telah menjadi sebuah oase rohani, tempat kita semua boleh menceburkan diri didalamnya; menemukan kesegaran baru dalam apapun aktivitas hidup kita.
Ziarah iman selalu menuntut pengorbanan. St. Yusuf mengorbankan kenyamanan hidupnya demi keselamatan Maria dan Yesus. Ia rela berpindah tempat, bekerja keras, dan menanggung risiko. Dalam Masa Prapaskah, kita semua bersama umat diajak meneladani pengorbanan ini: meninggalkan ego, demi kasih yang lebih besar. Dengan ini, pengorbanan bukan sekadar kehilangan, melainkan jalan menuju kasih sejati.
Para imam dan calon imam dipanggil untuk menjadi “Yusuf” bagi umat: hadir, setia, dan melayani dengan kasih. Seperti Yusuf yang menjaga Yesus dan Maria, imam menjaga umat Allah. Tugas ini menuntut kehadiran yang penuh empati, bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata. Imam dipanggil untuk hadir dalam suka dan duka umat, menjadi tanda kasih Allah yang nyata.

Para Imam Dekenat Larantuka saat Misa Bersama di Gereja Katedral Larantuka, 11/03/2026
Jujur bahwa kita semua, para imam di Keuskupan dan Dekenat Larantuka menghadapi banyak sekali tantangan pastoral: wilayah yang cukup luas, dengan kontur geografis yang menantang, budaya/adat istiadat pun beragam, dan keterbatasan sarana. Dalam situasi ini, ketaatan pada kehendak Allah menjadi kunci. Seperti Yusuf yang taat pada kehendak Allah melalui Malaikat Gabriel, kita, para imam/calon imam dipanggil untuk taat pada Roh Kudus yang menuntun setiap pelayanan kita. Ketaatan ini sering berarti meninggalkan kenyamanan pribadi demi kebutuhan umat.
Dalam budaya Lamaholot, keheningan sering menjadi ruang refleksi. Para Imam/Calon Imam diajak meneladani keheningan Yusuf: mendengarkan umat, merenungkan Sabda, dan menemukan kekuatan dalam doa. Keheningan bukan kelemahan, melainkan sumber kebijaksanaan pastoral. Imam yang mampu berdiam diri dalam doa akan mampu berbicara dengan kekuatan rohani yang sejati.
Dalam banyak hal, pelayanan kita selalu menuntut pengorbanan: perjalanan jauh ke stasi, keterbatasan fasilitas, termasuk tantangan ekonomi umat. Imam dipanggil meneladani pengorbanan Yusuf: bekerja tanpa pamrih, rela berkorban demi keselamatan umat. Pengorbanan ini menjadi kesaksian iman yang menggugah. Dalam pengorbanan imam, umat melihat wajah Kristus yang berkorban demi keselamatan dunia.
Seperti Yusuf yang bekerja dengan tangan, para imam/calon imam dimohon untuk bekerja dengan hati. Pekerjaan rohani bukan sekadar tugas liturgi, melainkan membangun komunitas, mendampingi keluarga, dan menumbuhkan iman. Imam dipanggil menjadi pekerja yang tekun, jujur, dan penuh kasih. Dalam kerja rohani imam, umat merasakan kehadiran Allah yang bekerja di tengah mereka.
Sebentar lagi, umat di Kota Larantuka, khususnya akan memasuki Semana Santa; sebuah ritual rohani yang mendalam dan sarat makna. Dalam tradisi ini, umat berziarah iman melalui prosesi, doa, dan devosi. Santo Yusuf dapat menjadi teladan: ia berjalan bersama Maria dan Yesus, seperti umat berjalan bersama Kristus dan Bunda-Nya dalam prosesi. Tradisi ini menjadi kesempatan untuk meneladani iman Yusuf yang setia berjalan bersama keluarga kudus.
Bersama umat, kita juga sedang berdoa dan bercerita tentang Solidaritas Ekonomi Sebagai Ekspresi Iman dalam ibadat, katorde, PAK dan BIA bagi remaja dan anak-anak. Dalam konteks ekonomi yang sederhana, Yusuf sebagai pekerja menjadi teladan. Seorang imam dapat menginspirasi umat untuk bekerja dengan jujur, membangun solidaritas ekonomi, dan menghidupi iman dalam pekerjaan sehari-hari. Budaya Lamaholot sungguh menekankan solidaritas, kerja sama, dan penghormatan pada martabat manusia seutuhnya. Keteladanan Yusuf selaras dengan nilai ini: ia hidup dalam solidaritas dengan Maria, bekerja sama dalam keluarga, dan menghormati tradisi iman. Kita para imam/calon imam dapat menjembatani nilai budaya dan iman, seperti Yusuf menjembatani hukum Yahudi dan misteri Kristus. Yusuf mengajarkan bahwa kerja adalah doa. Dalam kerja, iman menjadi nyata.

Para Imam Dekenat Larantuka saat Misa Bersama di Gereja Katedral Larantuka, 11/03/2026
Sungguh benar, bahwa Santo Yusuf adalah teladan iman yang relevan sepanjang zaman. Dalam masa Prapaskah ini, ia mengajarkan ketaatan, keheningan, pengorbanan, dan kerja keras. Bagi kita, Yusuf menjadi inspirasi untuk terus hadir, untuk tetap setia, dan untuk terus melayani umat dengan kasih. Seperti Yusuf yang menjaga Yesus dan Maria, para imam dan calon imam menjaga umat Allah dalam ziarah iman menuju kebangkitan. Mari meneladani Yusuf: berjalan dalam iman, meski jalannya penuh misteri. Dalam diam, kita mendengarkan Allah. Dalam kerja, kita memuliakan-Nya. Dalam pengorbanan, kita menemukan kasih yang sejati. Santo Yusuf, doakanlah kami. Amin.***
