Serah terima jabatan pemegang saham utama dan komisaris utama perseroan yang berada di bawah naungan Keuskupan Larantuka - dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro (13 Maret 2026)
LARANTUKA – Keuskupan Larantuka menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) pada Jumat, 13 Maret 2026 pukul 09.00 WITA di ruang pertemuan Keuskupan Larantuka. Rapat ini menjadi momentum penting dalam kesinambungan kepemimpinan dan pengelolaan badan usaha milik Keuskupan Larantuka, khususnya dalam rangka serah terima jabatan Pemegang Saham Utama sekaligus Komisaris Utama perseroan yang berada di bawah naungan keuskupan.
Pelaksanaan RUPS-LB tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Pemegang Saham Utama/Komisaris Utama Badan Usaha atau Perseroan Keuskupan Larantuka Nomor KL 105/V.10/III/2026 tentang penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa. Pertemuan ini bertujuan memastikan keberlanjutan pengelolaan perusahaan-perusahaan milik keuskupan agar dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan transparan, terutama setelah terjadinya pergantian kepemimpinan dalam struktur pemegang saham utama.

RUPS-LB – Serah terima jabatan pemegang saham utama dan komisaris utama perseroan yang berada di bawah naungan Keuskupan Larantuka – dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro (13 Maret 2026)
Pergantian ini terjadi setelah berakhirnya masa jabatan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, sebagai Pemegang Saham Utama sekaligus Komisaris Utama perseroan di lingkungan Keuskupan Larantuka. Peralihan tersebut juga merupakan konsekuensi dari tahbisan uskup baru, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, pada 11 Pebruari 2026 yang secara otomatis mengemban tanggung jawab sebagai pemegang saham utama sekaligus komisaris utama perusahaan-perusahaan milik keuskupan.
RUPS-LB ini dipimpin langsung oleh Mgr. Fransiskus Kopong Kung selaku Pemegang Saham Utama dan Komisaris Utama dan dihadiri oleh berbagai unsur penting dalam struktur perusahaan milik Keuskupan Larantuka, antara lain: Dewan Komisaris dan Direktur Utama PT Rerolara, Dewan Komisaris dan Direktur Utama PT Ema Pia Pia Senaren, Dewan Komisaris dan Direktur Utama PT Rumah Produksi VCO Keuskupan Larantuka, serta sejumlah undangan yang selama ini terlibat maupun akan dilibatkan dalam pengelolaan dan pengembangan badan usaha keuskupan.

RUPS-LB – Serah terima jabatan pemegang saham utama dan komisaris utama perseroan yang berada di bawah naungan Keuskupan Larantuka – dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro (13 Maret 2026)
Secara teknis pertemuan ini difasilitasi oleh Bapak Donatus Lamabelawa salah satu anggota Dewan Komisaris PT Rerolara. Dalam pengantarnya, Bapak Donatus Lamabelawa menjelaskan dasar hukum pelaksanaan RUPS-LB sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang Perseroan Terbatas serta Anggaran Dasar perusahaan-perusahaan yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Larantuka.
Mgr. Fransiskus Kopong Kung, dalam sapaan pembukanya, berharap agar pertemuan ini dapat berlangsung secara efektif dan menghasilkan keputusan yang baik bagi masa depan perusahaan-perusahaan milik keuskupan. Ia menegaskan bahwa agenda utama RUPS-LB ini adalah serah terima jabatan pemegang saham utama dan komisaris utama serta penyampaian memori serah terima yang memuat laporan pertanggungjawaban atas pengelolaan perusahaan selama masa kepemimpinannya.
Ia juga menambahkan bahwa berbagai persoalan teknis dan strategis dari masing-masing perusahaan akan dibahas lebih lanjut dalam rapat-rapat lanjutan yang secara khusus difokuskan pada pengembangan usaha dari ketiga perusahaan tersebut secara lebih mendalam.
Dalam sesi laporan perusahaan, para pimpinan badan usaha milik keuskupan menyampaikan gambaran kondisi aktual yang mereka hadapi. Direktur PT Ema Pia Senaren, RD. Pius Laba Buri, menjelaskan bahwa perusahaan yang mengelola SPBU tersebut masih menghadapi sejumlah keterbatasan, khususnya dalam kondisi keuangan yang memengaruhi operasional dan kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan bahan bakar.
Meski demikian, operasional perusahaan masih terbantu oleh sistem pembayaran Delivery Order (DO) atau pembayaran di muka dari pihak pemerintah. Sistem ini dinilai membantu perusahaan menjaga stabilitas operasional meskipun masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Selain itu, perusahaan juga menghadapi beberapa kendala teknis, seperti terbatasnya layanan perbankan pada masa liburan yang sering menghambat proses transaksi. Kerusakan peralatan operasional, seperti nosel pada pompa bahan bakar, juga sempat menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
Sementara itu Direktur PT Rerolara, RD. Petrus Ece Muda dalam laporannya mengungkapkan bahwa bahwa hasil produksi dari komoditas kelapa dan kakao masih memberikan kontribusi penting dalam menopang kebutuhan gaji karyawan serta biaya operasional perusahaan. Namun demikian, perusahaan juga menghadapi sejumlah tantangan di lapangan.
Beberapa kendala yang disampaikan antara lain adanya warga yang membuka kebun di area Hak Guna Usaha (HGU), pembiaran ternak yang merusak tanaman, serta kondisi wilayah kerja yang termasuk dalam kawasan rawan bencana sehingga para pekerja tidak diperbolehkan menetap di area tersebut.
Di sisi lain Direktur PT Rumah Produksi VCO Keuskupan Larantuka, RD. Rosarius Yansen Raring menyampaikan bahwa PT Rumah Produksi VCO Keuskupan Larantuka didirikan sebagai bentuk perhatian Gereja terhadap potensi ekonomi umat, khususnya komoditas kelapa yang banyak dihasilkan di wilayah Adonara. Rumah produksi ini dibangun dengan modal sekitar empat miliar rupiah dan kini telah mampu membiayai operasionalnya secara mandiri.
Produk minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) yang dihasilkan hingga saat ini memiliki peluang pasar yang cukup baik, terutama di pasar lokal yang dinilai paling menjanjikan untuk pengembangan usaha tersebut.
Menanggapi berbagai laporan yang disampaikan, Mgr. Fransiskus Kopong Kung menegaskan bahwa ketiga perusahaan milik Keuskupan Larantuka memiliki latar belakang dan tujuan yang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan finansial.
Ia menjelaskan bahwa PT Rerolara merupakan warisan para misionaris yang sejak awal tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pengembangan manusia serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Demikian pula dengan PT Emapia Pia Senaren yang lahir dari keberanian Gereja untuk menjawab kebutuhan masyarakat Lembata terhadap ketersediaan bahan bakar.
Sementara itu, PT Rumah Produksi VCO merupakan wujud nyata kehadiran Gereja dalam membantu umat, khususnya para petani kelapa, agar komoditas yang mereka hasilkan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Dalam diskusi yang berkembang, sejumlah peserta rapat juga menyoroti pentingnya memperkuat legal standing para komisaris dan direktur agar pengelolaan perusahaan tidak menghadapi kesulitan hukum di kemudian hari. Selain itu, muncul pula usulan agar dipertimbangkan kemungkinan penggabungan ketiga perusahaan menjadi satu entitas guna memperkuat pengelolaan serta meminimalisir berbagai dampak pastoral bagi umat.
Menanggapi hal tersebut, Bapak Donatus Lamabelawa menjelaskan bahwa secara hukum penggabungan perusahaan memang dimungkinkan selama memenuhi syarat yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Ia juga menambahkan bahwa dampak erupsi Gunung Lewotobi turut memengaruhi hasil kebun kopi yang dikelola oleh PT Rerolara.

RUPS-LB – Serah terima jabatan pemegang saham utama dan komisaris utama perseroan yang berada di bawah naungan Keuskupan Larantuka – dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro (13 Maret 2026)
Rapat kemudian dilanjutkan dengan pembacaan berita acara serah terima jabatan pemegang saham utama dan komisaris utama. Setelah itu dilaksanakan seremoni serah terima jabatan dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai pemegang saham utama dan komisaris utama yang baru.
Dalam sambutannya, Mgr. Fransiskus Kopong Kung menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan dan Bunda Maria atas penyertaan-Nya selama masa pengabdiannya. Ia juga mengungkapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja bersama dalam membangun dan mengembangkan perusahaan-perusahaan milik Keuskupan Larantuka.
Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Yohanes Hans Monteiro yang bersedia menerima tanggung jawab sebagai pemegang saham utama dan komisaris utama yang baru. Selain itu, ia juga memohon maaf atas berbagai keterbatasan dan kekurangan selama masa kepemimpinannya.
Ia berharap kerja sama yang telah terbangun selama ini dapat terus dilanjutkan demi perkembangan perusahaan-perusahaan tersebut di masa mendatang. Ia juga menekankan pentingnya membuka ruang partisipasi umat agar mereka merasa memiliki perusahaan-perusahaan tersebut sebagai bagian dari kehidupan Gereja.
Sementara itu, dalam sambutan perdananya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengakui bahwa dirinya sedang memasuki dunia yang baru dalam pengelolaan Badan Usaha milik keuskupan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut harus tetap hidup dan berkembang.
“Kita sudah lahir dan kita harus tetap hidup. Kita mesti memiliki satu napas, yakni napas Roh Kudus. Karena itu saya mengajak kita semua berjalan bersama dengan satu hati,” ujarnya.

RUPS-LB – Serah terima jabatan pemegang saham utama dan komisaris utama perseroan yang berada di bawah naungan Keuskupan Larantuka – dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro (13 Maret 2026)
Ia juga menegaskan bahwa perusahaan dalam lingkungan Gereja memiliki orientasi yang berbeda dengan perusahaan pada umumnya, karena tetap memperhatikan nilai-nilai pastoral dan kemanusiaan. Pada akhirnya, ia menekankan pentingnya penyelesaian berbagai aspek administratif seperti pajak dan legal standing perusahaan agar pengelolaan badan usaha milik Keuskupan Larantuka dapat berjalan lebih tertib, transparan, dan berkelanjutan di masa depan. (@sly)
