Larantuka – Umat Keuskupan Larantuka menutup Tahun Yubileum 2025 dan membuka (promulgasi) Tahun Program 2026, pada Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani, Minggu 4 Januari 2026 di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat ini dipimpin oleh Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, didampingi Uskup Terpilih Mgr. Yohanes Hans Monteiro serta para imam konselebran.

Foto: Perayaan Pesta Penampakan Tuhan, Penutupan Tahun Yubileum, dan Promulgasi Tahun Program 2026 Keuskupan Larantuka.
Dalam homilinya, Mgr. Fransiskus menegaskan bahwa ketiga momen yang disatukan dalam perayaan ini yakni: Epifani, Penutupan Tahun Yubileum 2025, dan Promulgasi Tahun Program 2026 tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling terjalin dalam satu gerak rohani yang sama, yakni ziarah iman umat yang ditandai oleh perjumpaan dengan Allah yang berbelas kasih dan oleh panggilan untuk berjalan bersama dalam membangun kehidupan yang lebih manusiawi dan beriman.
Tentang Pesta Epifani, Mgr. Fransiskus mengajak umat memandangnya sebagai peristiwa Allah yang datang menjumpai manusia. Allah tidak tinggal jauh dan tersembunyi, tetapi menampakkan diri-Nya dan masuk dalam sejarah manusia. Perjumpaan Allah dengan manusia ini sekaligus menjadi undangan bagi manusia untuk membangun perjumpaan yang tulus dengan sesama. Dalam perjumpaan yang dilandasi iman dan sukacita itulah semangat persekutuan, komunio, dan sinodalitas menemukan wujud nyatanya dalam kehidupan sehari-hari.
Momen kedua, yakni penutupan Tahun Yubileum 2025, dimaknai bukan sebagai berakhirnya kerahiman Allah, melainkan sebagai penegasan bahwa kerahiman Allah justru tetap terbuka sepanjang waktu. Pintu Suci boleh ditutup secara liturgis, tetapi pintu hati Allah tidak pernah tertutup bagi manusia. Mgr. Fransiskus mengingatkan bahwa Yubileum dibuka dengan seruan Spes non Confundit – harapan tidak mengecewakan. Karena itu, umat diajak melanjutkan ziarah pengharapan dalam kehidupan konkret, terutama melalui perjumpaan hati dengan Tuhan dan sesama.
Momen ketiga, promulgasi Tahun Program 2026, menjadi jembatan yang menghubungkan refleksi iman dengan kehidupan nyata umat. Dengan tema “Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman”, umat diajak melihat bahwa iman Kristiani tidak terlepas dari tanggung jawab sosial dan ekonomi. Mgr. Fransiskus menegaskan bahwa ekonomi bukan sekadar urusan duniawi, melainkan medan konkret di mana iman dihidupi. Solidaritas, keadilan, kejujuran, dan kepedulian terhadap yang lemah menemukan ungkapan nyatanya dalam cara umat mengelola ekonomi keluarga dan komunitas.
Ia mengingatkan bahwa tantangan ekonomi masa kini sering kali melahirkan pola hidup yang merusak martabat manusia, seperti pemborosan, perjudian, dan jerat pinjaman online. Pola-pola ini, menurut Mgr. Fransiskus, mencerminkan “ekonomi ingat diri” yang menjauhkan manusia dari semangat Injil. Sebaliknya, pemberdayaan ekonomi yang sehat mesti dibangun di atas kerja sama, tanggung jawab bersama, dan semangat saling menopang dalam keluarga, KBG, dan paroki.

Foto: Perayaan Pesta Penampakan Tuhan, Penutupan Tahun Yubileum, dan Promulgasi Tahun Program 2026 Keuskupan Larantuka.
Setelah komuni, umat diajak mendoakan Doa Tahun Program 2026, dilanjutkan dengan doa penutupan Yubileum yang dipimpin oleh Mgr. Fransiskus. Doa itu memohon agar kerahiman Allah terus dicurahkan dan agar pintu hati umat senantiasa terbuka untuk mengampuni dan mengasihi. Suasana doa ini diperdalam dengan nyanyian Hymne Yubileum yang dinyanyikan bersama oleh umat.
Promulgasi Tahun Program diawali dengan pembacaan Surat Gembala Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka. Surat ini menegaskan bahwa tema pemberdayaan ekonomi lahir dari proses refleksi panjang: mulai dari evaluasi pastoral, lokakarya keuskupan, Pertemuan Pastoral para Uskup Regio Nusra, hingga keprihatinan nasional Gereja Katolik Indonesia tentang kemiskinan, ketimpangan sosial, dan dehumanisasi.
Surat Gembala itu juga menyoroti dampak persoalan ekonomi terhadap kehidupan keluarga, migrasi, dan rapuhnya relasi sosial. Karena itu, keluarga-keluarga dan KBG didorong menjadi subjek utama pemberdayaan ekonomi melalui berbagai bentuk kerja sama seperti CU, UBSP, SILC, arisan, dan usaha bersama lainnya. Seluruh komponen pastoral diminta menyusun tata kelola sederhana dan berkelanjutan agar pemberdayaan ini sungguh menyentuh kehidupan umat.
Dalam sambutannya, uskup terpilih Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyatakan kesiapan untuk melanjutkan dan mengembangkan Tahun Program ini dalam masa kegembalaannya kelak. Ia juga menyampaikan rencana untuk mengadakan sinode keuskupan setelah melakukan pendalaman atas kebutuhan pastoral Gereja Lokal Keuskupan Larantuka.

Foto: Perayaan Pesta Penampakan Tuhan, Penutupan Tahun Yubileum, dan Promulgasi Tahun Program 2026 Keuskupan Larantuka.
Perayaan ini ditutup secara simbolis dengan penurunan tulisan Yubileum di pintu utama Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka sebagai tanda penutupan Porta Sancta. Namun makna yang ditinggalkan justru bersifat terbuka: umat diutus untuk melanjutkan ziarah pengharapan, menghidupi iman dalam kehidupan sehari-hari, dan mewujudkan kerahiman Allah dalam perjumpaan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial, terutama dalam bidang ekonomi sebagai ekspresi nyata dari iman yang hidup. (Apong Boruk)






