JEJAK EMAS MGR. FRANSISKUS KOPONG KUNG: Mengingat Pemikirannya tentang Iman, Kemanusiaan dan Alam

Berita, Majalah, News, Opini179 Dilihat

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

MASA jabatan Mgr. Fransiskus Kopong Kung sebagai Uskup Larantuka selama dua dekade terakhir merupakan sebuah catatan panjang tentang bagaimana iman bertemu dengan realitas sosial yang kompleks. Kepemimpinan beliau menjadi manifestasi dari kehadiran Gereja yang terlibat aktif dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Flores Timur dan Lembata, melampaui urusan administratif gerejawi semata. Melalui berbagai kebijakan dan pesan-pesan moralnya, beliau telah meletakkan fondasi spiritualitas yang berakar kuat pada nilai kemanusiaan dan pelestarian lingkungan.

Salah satu warisan pemikiran beliau terletak pada penjagaan marwah tradisi ‘Semana Santa’. Di tengah arus modernisasi dan potensi industrialisasi pariwisata, Mgr. Fransiskus berdiri teguh untuk memastikan bahwa pekan suci tersebut tetap menjadi ruang refleksi spiritualitas yang murni. Beliau secara tegas menolak ‘komersialisasi tradisi’ yang berlebihan, dengan keyakinan bahwa pertobatan batin menempati kasta tertinggi dibandingkan megahnya perayaan seremonial. Bagi beliau, Semana Santa adalah milik semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, sebuah warisan sejarah inklusif yang mempersatukan seluruh elemen di Keuskupan Larantuka dalam semangat persaudaraan.

Kepedulian beliau terhadap martabat manusia juga terpancar kuat melalui responsnya terhadap isu-isu sosial yang pelik. Fenomena migrasi tenaga kerja dan pemulangan peti mati buruh migran NTT menjadi derita sosial yang terus beliau suarakan. Mgr. Fransiskus memandang tragedi ini sebagai cermin rapuhnya keadilan bagi kaum kecil. Melalui setiap pesannya, beliau berupaya “mencubit” nurani kolektif masyarakat dan pemangku kebijakan agar lebih peduli terhadap perlindungan para pekerja yang mencari nafkah di tanah rantau. Bagi beliau, Gereja memegang peran krusial sebagai garda terdepan dalam membela mereka yang terabaikan.

Selaras dengan pembelaan terhadap kemanusiaan, Mgr. Fransiskus juga dikenal sebagai sosok yang gigih dalam isu ekologi. Pandangan beliau mengenai penolakan eksploitasi alam melalui pertambangan merupakan perpanjangan dari visi teologisnya tentang keutuhan ciptaan. Beliau memahami bahwa perusakan lingkungan demi keuntungan jangka pendek berisiko menghancurkan martabat manusia dan keberlanjutan hidup generasi mendatang. Sikap tegas ini menegaskan bahwa iman Kristiani mewujud dalam tindakan nyata untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Kini, seiring dengan beralihnya tongkat estafet kepemimpinan kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro, jejak pemikiran Mgr. Fransiskus tetap menjadi kompas yang relevan. Beliau telah menunjukkan bahwa menjadi seorang gembala berarti ‘berani melintasi tembok gereja’ untuk menyentuh penderitaan umat dan menjaga kesucian tradisi. Pengabdian panjang ini merupakan bukti nyata bahwa spiritualitas yang sejati adalah spiritualitas yang mampu berbicara lantang demi keadilan dan kelestarian alam.

Mgr. Fransiskus Kopong Kung kini melangkah menuju masa purna tugas. Ia telah meninggalkan jejak kaki yang dalam pada tanah dan jiwa masyarakat Flores Timur dan Lembata. Ia adalah gembala yang telah merajut jubah kepemimpinannya dari benang-benang persoalan rakyat, dari keringat petani, air mata buruh migran, hingga keheningan doa di depan arca Tuan Ma. Warisannya adalah sebuah bukti bahwa altar dan alam, doa dan keadilan, serta tradisi dan kemanusiaan dapat berdenyut dalam satu jantung yang sama. Meski tongkat gembala kini berpindah tangan, gema suaranya akan terus beresonansi di celah-celah bukit dan pesisir di seantero wilayah Keuskupan Larantuka. Gema ini akan mengingatkan setiap insan bahwa spiritualitas yang paling agung adalah spiritualitas yang berani mencintai bumi dan manusia seutuhnya hingga akhir.*

(Penulis adalah Seksi Komsos dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Larantuka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *