DIPANGGIL, DIUTUS, DISATUKAN: Pesan Pastoral Mgr. Yohanes Hans Monteiro dalam Misa Pontifikal

Berita, Majalah, News35 Dilihat

Laporan Anselmus DW Atasoge – Komsos Panitia Tahbisan Uskup

Dalam suasana liturgis yang khidmat di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Kamis (12/02/2026), Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, menyampaikan kotbah mendalam yang merangkum hakikat eksistensi Gereja. Beliau menekankan tiga pilar utama yang mendefinisikan jati diri umat beriman: dipanggil, diutus, dan dipersatukan. Ketiga elemen ini dipandang sebagai satu kesatuan sirkular yang bergerak dari inisiatif Allah menuju perutusan di dunia.

Misa Pontifikal Mgr. Yohanes Hans Monteiro (12/02/2026)

Mengawali refleksinya, Mgr. Hans menyoroti kisah panggilan Nabi Yeremia sebagai prototipe panggilan setiap orang beriman. Beliau menegaskan bahwa panggilan merupakan kedaulatan Allah yang melampaui kapasitas manusiawi. “Panggilan sejati bermula dari inisiatif kasih Allah, bukan dari kesiapan atau kemampuan manusia,” ujar beliau.

Istilah “dikenal” dalam konteks biblis, menurut Mgr. Hans, merujuk pada keintiman yang mendalam antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Meski demikian, panggilan tersebut mengandung risiko yang nyata, termasuk penolakan dan perlawanan. Gereja, yang diwakili oleh seluruh umat Allah melalui sakramen baptis, mengemban tugas kenabian untuk menyampaikan kebenaran, terlepas dari kenyamanan situasi yang dihadapi.

Pada bagian kedua, Mgr. Hans membedah makna perutusan melalui simbolisme angka 72 murid dalam Injil. Angka ini mencerminkan sifat universalitas Gereja yang melampaui sekat suku, bahasa, maupun budaya. Perutusan tersebut dipahami sebagai sebuah ajakan untuk menawarkan perdamaian melalui perjumpaan, bukan melalui paksaan atau dominasi.

“Gereja mengundang, tidak memaksa; melayani, tidak mendominasi; serta menawarkan perjumpaan, tidak menguasai,” tegas Mgr. Hans. Beliau mengingatkan agar di tengah perbedaan pandangan dan konflik, umat tidak terjebak dalam klaim kebenaran sepihak. Damai sejati hanya dapat diwartakan oleh mereka yang menghidupi damai itu sendiri dalam keseharian mereka.

Menutup rangkaian pesannya, Mgr. Hans menggarisbawahi pentingnya kesatuan sebagai anugerah, yang lebih dalam maknanya dari sekedar strategi organisasi. Dalam konteks pelayanan episkopal, peran Uskup adalah sebagai penjaga persekutuan yang memastikan setiap karunia umat bertumbuh secara harmonis. Kesatuan ini bersifat dinamis dan harus terus diupayakan melalui sikap rendah hati, kesabaran, dan kasih yang konkret.

Beliau secara khusus menyinggung realitas pastoral di Keuskupan Larantuka yang kaya akan iman dan devosi namun tetap rentan terhadap gesekan kepentingan. Mgr. Hans menegaskan bahwa perbedaan adalah ruang bagi rahmat yang seharusnya membangun Tubuh Kristus.

“Membangun Gereja berarti belajar berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, dan memberi ruang bagi suara yang berbeda untuk mencari kehendak Allah.”

Bagi Mgr. Hans, puncak dari seluruh panggilan dan perutusan ini berakar pada Ekaristi. Mengacu pada dokumen Desiderio Desideravi, Mgr. Hans menjelaskan bahwa formatio atau pembentukan iman terjadi di dalam liturgi. Ekaristi memanggil umat untuk melakukan rekonsiliasi relasi yang dimulai dari kesediaan untuk mendengar dan mengampuni.

Di akhir kotbahnya, Mgr. Hans memberikan peringatan mengenai kedewasaan iman. Beliau mengajak seluruh klerus dan awam untuk tidak mudah terombang-ambing oleh arus negatif zaman, seperti pengaruh judi online atau ajaran menyesatkan. Gereja Keuskupan Larantuka diharapkan terus bertumbuh menjadi tanda keselamatan bagi dunia, yang bersumber dari satu altar, satu iman, dan satu pengharapan menuju Kristus.

“Dari altar ini kita menerima Kristus. Dari altar ini kita dipersatukan menjadi satu tubuh; dari altar ini kita diutus ke dunia. Semua bersumber dari altar. Karena itu, kita dipanggil oleh Allah, diutus oleh Kristus, dan dipersatukan oleh Roh Kudus. Semoga Roh Kudus yang satu menuntun kita sebagai umat Allah yang berjalan bersama, agar Gereja Keuskupan Larantuka sungguh menjadi satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan yang bertumbuh menuju Kristus,” tegas Mgr. Hans.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *