Workshop Operator Yayasan dan Sekolah- Sekolah Katolik se-Keuskupan Larantuka 20-21 Maret 2026
SAROTARI, Komsos Larantuka – Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Larantuka menggelar Workshop Operator Yayasan dan Sekolah-Sekolah Katolik se-Keuskupan Larantuka pada 20-21 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Multi Event Hall Keuskupan Larantuka ini diikuti oleh para Ketua Yayasan, Kepala Sekolah, Operator Yayasan, serta Operator Sekolah dari berbagai satuan pendidikan Katolik.

Workshop Operator Yayasan dan Sekolah- Sekolah Katolik se-Keuskupan Larantuka 20-21 Maret 2026
Workshop ini menjadi wujud nyata perhatian Gereja terhadap peran strategis operator sekolah dalam sistem pendidikan modern. Di tengah arus digitalisasi yang semakin pesat, operator sekolah tidak lagi sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan menjadi ujung tombak dalam memastikan kualitas data pendidikan yang akurat, valid, dan tepat waktu sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Dalam pelaksanaan tugasnya, operator sekolah memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Mereka mengelola berbagai sistem seperti Dapodik, Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP), Standar Pelayanan Minimal (SPM), hingga Program Indonesia Pintar (PIP). Selain itu, mereka juga melakukan verifikasi dan validasi data serta memastikan seluruh informasi terintegrasi dengan baik ke dalam sistem pusat secara daring. Kompleksitas ini menuntut kemampuan teknis yang memadai, ketelitian tinggi, serta integritas dalam bekerja.
Namun, dinamika perubahan sistem yang cepat dan tuntutan kerja yang semakin tinggi kerap menjadi tantangan tersendiri. Tidak sedikit operator sekolah yang masih menghadapi kesulitan dalam memahami pembaruan aplikasi maupun dalam mengelola data secara optimal. Situasi ini menjadi latar belakang utama diselenggarakannya workshop sebagai ruang pembelajaran bersama untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme.
Kegiatan diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Dalam homilinya yang bertema “Setia dalam Kerapuhan, Jujur dalam Tugas, Teguh dalam Kebenaran”, Uskup menegaskan bahwa hidup dalam kebenaran tidak selalu mudah, bahkan seringkali menuntut keberanian untuk menghadapi ketidaknyamanan.
Ia mengingatkan bahwa dalam dunia kerja, termasuk dalam tugas operator sekolah, godaan untuk berkompromi dengan ketidakjujuran dapat muncul, terutama saat menghadapi tekanan administratif dan tuntutan sistem. Namun demikian, integritas harus tetap menjadi pegangan utama. “Lebih baik lambat tetapi benar, daripada cepat namun mengorbankan kejujuran. Karena pada akhirnya, yang kita pertanggungjawabkan bukan hanya kepada sistem, tetapi kepada Allah,” tegasnya.

Misa Pembukaan Kegiatan Workshop Operator Yayasan dan Sekolah- Sekolah Katolik se-Keuskupan Larantuka 20-21 Maret 2026
Lebih lanjut, Uskup mengajak para peserta untuk memaknai kerapuhan dan kelelahan dalam pekerjaan sebagai bagian dari perjalanan iman. Dalam situasi tersebut, Allah justru hadir dan memberi kekuatan. Dengan demikian, setiap tugas yang dijalankan memiliki nilai pelayanan dan kesaksian.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan sambutan dari berbagai pihak, yang disampaikan sebelum berkat penutup. Ketua Panitia, Rm. Boni Hurint, menegaskan bahwa workshop ini merupakan momentum penting untuk membangun kesadaran bersama akan peran strategis operator sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Kabid PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Kabupaten Lembata, Silvester Yafet, S.Fil. dalam sambutannya menyoroti pentingnya validitas data dalam mendukung kebijakan pendidikan, khususnya dalam penyaluran bantuan. Data yang tidak akurat akan berdampak pada ketidaktepatan sasaran program.
Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur Yosef Aloysius Babaputra, menyampaikan apresiasi atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam memperkuat kualitas pendidikan Katolik.
Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah untuk tetap memperhatikan kualitas pendidikan meskipun menghadapi keterbatasan anggaran. Ia juga menekankan bahwa kompetensi digital menjadi salah satu kunci penting dalam menyiapkan generasi masa depan.
Pada kesempatan yang sama, Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro memberikan arahan dan peneguhan kepada seluruh peserta. Ia menekankan bahwa sekolah Katolik tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang lahir dari iman Gereja.
Menurutnya, pendidikan Katolik harus mengintegrasikan iman, ilmu, dan kehidupan secara utuh. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kesaksian hidup. Ia juga menyoroti pentingnya tata kelola yang sehat antara yayasan dan sekolah, yang harus dibangun dalam semangat kebersamaan, tanggung jawab, dan profesionalitas.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa sekolah Katolik dipanggil untuk menjaga keseimbangan antara mutu dan keberpihakan kepada mereka yang lemah.“Pendidikan berkualitas harus tetap terbuka bagi semua kalangan, termasuk mereka yang kurang mampu. Pendidikan Katolik tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang “siap kerja”, tetapi harus melahirkan pribadi yang utuh, beriman, cerdas, dan berbelarasa. Pendidikan adalah jalan pembebasan dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan”, ungkap Uskup Larantuka.
Mengawali sesi materi, Ketua MPK Keuskupan Larantuka RD. Tomas Labina mengungkapkan salah satu temuan penting terkait kondisi pendidikan di Nusa Tenggara Timur, yakni lemahnya pengelolaan data. Ia menyoroti sikap apatis dalam penyusunan proposal dan pelaporan sebagai salah satu hambatan utama dalam memperoleh bantuan pendidikan.
Ia juga memaparkan gambaran umum pendidikan Katolik di wilayah Keuskupan Larantuka. Tercatat terdapat 34 yayasan yang terdiri dari 12 di Larantuka, 10 di Adonara, dan 12 di Lembata, yang dikelola oleh keuskupan/paroki, kongregasi, maupun awam. Sementara itu, jumlah sekolah mencapai 430 unit dengan total 28.786 siswa. Tenaga pendidik berjumlah 2.706 orang, terdiri dari 1.910 guru swasta dan 805 guru negeri, serta didukung oleh 654 tenaga kependidikan. Data ini menunjukkan besarnya tanggung jawab yang harus dikelola secara profesional, khususnya dalam aspek administrasi dan pelaporan yang berbasis data.
Workshop ini juga menghadirkan narasumber dari tingkat nasional yakni Asisten Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Nasional, L. Manik Mustikohendro dan Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Pastor Dr. Darmin Mbula, OFM yang memberikan penguatan teknis terkait pengelolaan sistem informasi pendidikan. Para peserta dibekali dengan keterampilan praktis untuk menghadapi berbagai tantangan di lapangan, sekaligus mendorong inovasi dalam pemanfaatan teknologi.
Selain peningkatan kompetensi teknis, kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk membangun jejaring dan kolaborasi antara operator sekolah, yayasan, dan pemerintah. Kolaborasi yang baik diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan data yang lebih efektif, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan nyata di lapangan. Melalui kegiatan ini, Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Larantuka berharap lahir operator sekolah yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, komitmen, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas pelayanan.

Workshop Operator Yayasan dan Sekolah- Sekolah Katolik se-Keuskupan Larantuka 20-21 Maret 2026
Pada akhirnya, workshop ini menjadi langkah nyata dalam menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat peran strategis pendidikan Katolik di Keuskupan Larantuka. Dengan pengelolaan data yang semakin baik, diharapkan kualitas layanan pendidikan terus meningkat, sehingga mampu melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing. (@sly)
